Tampilkan postingan dengan label Kesuburan Tanah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesuburan Tanah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Maret 2025

Kompos Daun Bambu: Manfaat dan Cara Pembuatannya

Kandungan Kimia Daun Bambu

    Dalam rangka untuk meningkatkan hasil usaha budidaya tanaman, sangat penting untuk memperhatikan kesuburan tanahnya yang menjadi media tumbuh tanaman tersebut. Pemberian kompos ke dalam tanah dapat menambah kandungan bahan organik yang memicu kesuburan tanah karena meningkatnya ketersediaan unsur hara dan perbaikan sifat fisika-kimia maupun biologi tanah yang cocok untuk pertumbuhan tanaman. Kompos dihasilkan dari proses dekomposisi bahan-bahan organik.  Salah satu bahan organik yang bisa dijadikan kompos adalah daun bambu. Kandungan unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K) dan Silika (Si) yang cukup tinggi pada daun bambu, sehingga bahan organik ini sangat potensial untuk dijadikan kompos, namun bahan ini memiliki rasio C/N (Karbon/Nitrogen) yang cukup tinggi berkisar 35 – 38. Selain itu, daun bambu juga mengandung senyawa-senyawa kimia seperti flavonoid dan tanin.

Tumpukan Seresah Daun Bambu

Penambahan bahan organik lainya diperlukan untuk menambah unsur hara dan menurunkan rasio C/N. Bahan organik dengan rasio C/N rendah berarti bahan tersebut memiliki kandungan nitrogen yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan karbon. Bahan dengan rasio C/N rendah akan lebih cepat terurai dalam proses pengomposan dan memberikan pasokan nitrogen yang lebih banyak untuk mikroorganisme pengurai. Berikut adalah beberapa contoh bahan organik dengan rasio C/N rendah:

  1. Sisa Sayuran : Sayuran segar seperti wortel, selada, kulit kentang dan daun bayam memiliki kandungan nitrogen yang tinggi dengan nilai rasio C/N yang rendah, sehingga bahan ini sangat baik untuk mempercepat proses dekomposisi.
  2. Rumput Segar atau daun hijau segar : Rumput segar (daun hijau segar) yang baru dipotong memiliki kandungan nitrogen yang tinggi dengan nilai rasio C/N yang rendah, sangat baik untuk dicampur dengan bahan lain yang kaya karbon untuk keseimbangan rasio C/N yang lebih baik.
  3. Pupuk Kandang : Pupuk kandang atau kompos dari kotoran hewan ayam atau sapi mengandung nitrogen yang cukup tinggi, sehingga rasio C/N yang lebih rendah. Namun kotoran hewan yang masih segar jangan langsung digunakan karena mengandung banyak ammonia yang berbahaya bagi tanaman.
  4. Sisa Makanan (Sisa dapur) : Sisa makanan seperti potongan buah/sayur mengandung kadar nitrogen tinggi dan memiliki rasio C/N rendah.
  5. Tanaman Leguminosa (Kacang-kacangan) : Tanaman ini (contohnya: kacang tanah) memiliki kandungan nitrogen yang lebih tinggi, sehingga rasio C/N rendah.

Mengapa Rasio C/N itu Penting?
Rasio C/N yang seimbang (nilainya kurang lebih 25:1) sangat penting untuk proses dekomposisi yang efektif dalam pembuatan kompos. Oleh karena itu, penting untuk mencampur bahan-bahan yang kaya karbon (seperti daun bambu atau Jerami kering) dengan bahan-bahan yang kaya nitrogen (seperti sisa sayuran, pupuk kandang atau rumput segar).

Jika rasio C/N terlalu rendah, mikroorganisme akan mengurai bahan dengan cepat, tetapi bisa kekurangan karbon, yang mengakibatkan terhambatnya proses dekomposisi. Sebaliknya, jika rasio C/N terlalu tinggi, dekomposisi akan berlangsung lambat karena mikroorganisme kekurangan nitrogen.


Berikut adalah langkah-langkah untuk membuat kompos dari daun bambu:

1.     Pengumpulan Bahan Baku : Kumpulkan daun bambu yang kering, tambahkan bahan organik lainnya seperti sisa sayuran, rumput, atau limbah dapur untuk mempercepat proses dekomposisi dan untuk menyeimbangkan kandungan karbon (C) dan nitrogen (N).

2.     Persiapan Tempat : Pilih tempat yang teduh dan cukup luas.

3.     Penghancuran Bahan : Daun bambu cenderung keras dan besar, sehingga akan lebih mudah terurai jika dipotong atau dihancurkan menjadi potongan kecil-kecil dengan gunting taman atau menggunakan mesin pencacah.

4.     Penyusunan Lapisan Bahan Kompos : Susun lapisan mulai dengan lapisan bahan kaya karbon di dasar tempat kompos, lalu lapisi dengan bahan kaya nitrogen. Ulangi proses ini secara bergantian hingga tumpukan kompos setinggi 1 hingga 1,5 meter. Pastikan lapisan bahan nitrogen lebih tipis agar tidak terlalu basah.

5.     Menjaga Kelembaban : Kompos memerlukan kelembaban yang cukup untuk mendukung aktivitas mikroorganisme yang menguraikan bahan organik. Pastikan tumpukan kompos tetap lembab, tetapi tidak basah kuyup. Jika terlalu kering, tambahkan air secukupnya. Jika terlalu basah, tambahkan bahan kering seperti daun kering atau serbuk gergaji untuk menyerap kelembaban berlebih. Periksa kelembaban tumpukan, kompos terasa seperti spons jika ditekan terasa lembab tetapi tidak mengalirkan air.

6.     Pembalikan Tumpukan : Untuk mempercepat proses dekomposisi, balik tumpukan kompos secara teratur setiap 2-3 minggu. Pembalikan ini membantu aerasi, sehingga mikroorganisme pengurai mendapatkan oksigen yang mereka butuhkan untuk mempercepat proses penguraian. Jika tumpukan kompos cukup besar, suhunya akan naik hingga sekitar 50-65°C pada bagian tengah. Ini adalah suhu ideal untuk dekomposisi. Namun, jika suhunya terlalu tinggi, baliklah tumpukan agar suhu bisa turun sedikit dan mencegah mikroorganisme mati.

7.     Proses Dekomposisi : Proses dekomposisi daun bambu menjadi kompos dapat memakan waktu beberapa bulan, tergantung pada kondisi lingkungan (kelembaban, suhu, ukuran bahan) dan frekuensi pembalikan tumpukan. Kompos siap digunakan ketika sudah berwarna gelap, halus, dan tidak lagi mengenali bentuk bahan asalnya (seperti daun bambu) beraroma tanah.


Tips Tambahan :
Penyaringan
: Jika diperlukan, saring kompos untuk memisahkan bagian-bagian yang belum terurai dengan sempurna. Bagian yang belum terurai bisa kembali dimasukkan ke dalam tumpukan untuk proses dekomposisi lebih lanjut.
Penggunaan untuk Tanaman: Kompos daun bambu yang telah matang bisa digunakan untuk memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kandungan nutrisi, dan mendukung pertumbuhan tanaman. Kompos daun bambu bisa ditambahkan ke kebun, pot tanaman, atau lapisan atas tanah di sekitar tanaman.
Aktivator Kompos:  Aktivator kompos atau mikroorganisme pengurai bisa digunakan untuk mempercepat proses dekomposisi.


Perbedaan Kompos dan Humus
Perbedaan antara kompos daun bambu dan humus daun bambu terletak pada proses pembuatannya dan tingkat kematangan bahan organik yang terkandung di dalamnya.

Kompos Daun Bambu:

1.     Kompos daun bambu adalah bahan organik yang telah mengalami proses pengomposan. Daun bambu yang sudah dikumpulkan akan mengalami proses dekomposisi oleh mikroorganisme dalam kondisi lembab dan hangat.

2.     Proses pengomposan ini mengubah daun bambu menjadi bahan yang lebih terurai, kaya nutrisi, dan siap digunakan untuk memperbaiki kualitas tanah.

3.     Kompos daun bambu memiliki tekstur yang lebih kasar dan lebih banyak mengandung sisa-sisa bahan yang belum terurai sepenuhnya.

Humus Daun Bambu:

1.     Humus adalah hasil dari dekomposisi bahan organik yang lebih lanjut, yang lebih matang dan halus dibandingkan kompos. Humus daun bambu adalah produk akhir dari proses dekomposisi yang berlangsung lebih lama, sehingga sudah tidak tampak sisa-sisa bahan asalnya (seperti daun bambu).

2.     Humus lebih halus, lebih gelap, dan lebih kaya akan bahan organik yang sudah terurai sepenuhnya. Ini memberikan manfaat yang lebih baik untuk memperbaiki struktur tanah, meningkatkan daya tahan tanah terhadap erosi, dan membantu menyerap serta menahan air.

Kompos daun bambu, meskipun memiliki banyak manfaat untuk meningkatkan kualitas tanah, memiliki tekstur dan kandungan yang berbeda dibandingkan dengan tanah biasa. Oleh karena itu, menggunakan kompos daun bambu sebagai media tanam utama tanpa tambahan tanah bisa menjadi pilihan yang baik untuk beberapa tanaman tertentu, terutama yang tidak memerlukan media tanam yang terlalu padat atau kaya unsur hara. Berikut adalah beberapa jenis tanaman yang bisa tumbuh dengan baik menggunakan media tanam kompos daun bambu tanpa perlu ditambah dengan tanah:

Tanaman Hias atau Ornamental

Begonia: Tanaman hias ini sering kali menyukai media yang ringan dan mudah menyerap air. Kompos daun bambu bisa memberikan kelembaban yang tepat dan nutrisi yang cukup.

Ficus: Beberapa jenis Ficus, seperti Ficus elastica (getah karet) atau Ficus benjamina, bisa tumbuh dengan baik di media kompos bambu.

Bunga Krisan: Tanaman bunga ini bisa tumbuh di media yang kaya bahan organik seperti kompos daun bambu. Krisan membutuhkan media tanam yang gembur dan memiliki drainase yang baik.

Tanaman Pangan dengan Kebutuhan Nutrisi Sedang

Lettuce (Selada): Tanaman sayuran seperti selada dapat tumbuh dengan baik dalam media yang kaya kompos, asalkan cukup kelembaban dan nutrisi tersedia.

Bayam: Bayam bisa tumbuh di media kompos karena tanaman ini tidak membutuhkan tanah yang padat. Kompos daun bambu memberikan kelembaban dan nutrisi yang cukup bagi bayam.

Kale: Tanaman kale, yang termasuk dalam keluarga sayuran berdaun, juga cocok untuk ditanam di kompos daun bambu karena lebih menyukai media yang ringan dan kaya bahan organik.

Tanaman Herba

Mint (Daun Mint): Tanaman mint tumbuh dengan baik di media yang lebih ringan dan tidak terlalu padat. Kompos daun bambu cukup cocok untuk mint, yang membutuhkan drainase yang baik dan kelembaban yang cukup.

Basil (Kemangi): Basil membutuhkan media yang gembur dan kaya nutrisi, dan kompos daun bambu dapat memenuhi kebutuhan tersebut.

Tanaman Paku (Ferns)

Tanaman paku seperti Nephrolepis exaltata (paku tanduk rusa) atau Asplenium nidus (paku nidus) sangat cocok ditanam dalam media kompos daun bambu. Tanaman paku cenderung lebih menyukai media yang lembap dan kaya bahan organik yang dapat membantu mempertahankan kelembaban.

Tanaman Suksulenta yang Memerlukan Drainase Baik

Beberapa sukulen seperti Aloe vera atau Echeveria dapat tumbuh dengan baik di media kompos daun bambu, asalkan campuran tersebut memiliki drainase yang baik. Meskipun sukulen biasanya lebih menyukai tanah yang agak kering, kompos bambu yang terurai baik dan dicampur dengan bahan lain dapat memberikan kelembaban yang cukup untuk sukulen.

Tanaman Kaktus (Beberapa Jenis)

Kaktus yang lebih kecil, seperti Kaktus Opuntia atau Kaktus Gymnocalycium, bisa bertumbuh di media kompos bambu yang sudah terurai, tetapi harus memastikan kompos memiliki drainase yang baik dan tidak terlalu lembab, karena kaktus tidak suka media yang terlalu basah.

Tanaman Rempah Rempah

Jahe dan Kunyit: Tanaman rimpang seperti jahe dan kunyit dapat tumbuh dengan baik di kompos daun bambu. Mereka menyukai media tanam yang kaya bahan organik dan gembur, yang membantu akar berkembang dengan baik.

Perhatian:

Drainase yang Baik: Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan saat menggunakan kompos daun bambu sebagai media tanam utama adalah drainase. Kompos bambu bisa cenderung padat jika terlalu banyak, sehingga bisa menyebabkan kelebihan air. Pastikan media memiliki drainase yang baik agar akar tidak tergenang air.

Penambahan Bahan Lain: Meskipun banyak tanaman yang bisa tumbuh hanya dengan kompos daun bambu, kadang-kadang akan lebih baik jika kompos tersebut dicampur dengan sedikit bahan lain, seperti pasir kasar atau perlite, untuk meningkatkan aerasi dan drainase.

Nutrisi: Kompos daun bambu mengandung nutrisi, tetapi jika digunakan terlalu lama tanpa penambahan bahan lain, kadar nutrisi mungkin akan berkurang. Tanaman dengan kebutuhan hara tinggi mungkin perlu diberi pupuk tambahan sesekali.


Selasa, 27 Desember 2016

Komposisi Media Tanam untuk Tanaman Buah dalam POT (TaBuLamPOT )

Bila Anda akan bercocok tanam dalam Pot/Plybag/Planter Bag, Anda harus mempersiapkan tempat yang akan digunakan untuk menanam bakal tanaman berupa benih atau bibit.  Tempat tersebut disebut media tanam. Agar tanaman dapat tumbuh sesuai harapan Anda, mempersiapkan media tanam merupakan salah satu langkah awal yang penting diperhatikan.
Bagaimana mempersiapkan media tanam agar diperoleh struktur dan komposisi yang paling optimum untuk pertumbuhan tanaman Anda..... ???
Ikuti penjelasannya ....
Media Tanam
   A. Fungsi Media Tanam
Media tanam berfungsi sebagai :
1. Media untuk menumbuhkan tanaman
2. Tempat akar tumbuh dan berkembang
3. Tempat berpegangnya akar agar tajuk tanaman dapat berdiri kokoh diatas media tersebut
4. Sarana untuk menghidupi tanaman, dimana tanaman mendapatkan air, udara dan makanan yang diperlukan untuk pertumbuhannya dengan cara menyerap unsur-unsur hara yang terkandung di dalam media tanam.

   B. Syarat Media Tanam yang Baik
Secara umum, media tanam yang baik adalah apabila dapat memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
1. Bersifat fisik yang remah
Media yang remah mempunyai rongga-rongga atau pori-pori di dalamnya, tidak padat secara keseluruhan. Sifat tersebut sangat bermanfaat karena mudah ditembus oleh akar, dapat membuang air yang berlebihan ( drainase-nya lancar ) dan memungkinkan berlangsungnya pertukaran udara di dalam media dengan udara bebas ( aerasi-nya baik ). Tepat di belakang jaringan meristem/titik tumbuh di ujung akar, terdapat banyak rambut akar yang perperan menyerap unsur-unsur hara. Pertumbuhan ujung akar yang cepat menyebabkan rambut akar akan bertambah banyak, sehingga penyerapan unsur hara tetap baik dan efisien. Pertumbuhan ujung akar tersebut memerlukan ruang yang semakin lama semakin banyak, karena akar akan bercabang-cabang. Oleh karena itu, keremahan media diusahakan selama mungkin.
Air yang masuk ke dalam media tanam secara berlebihan, misalnya dari air penyiraman atau air hujan, harus dapat meresap dan terbuang. Jika tidak terbuang, maka terjadi perendaman akar, yang berpengaruh buruk bagi tanaman.
Media tanam yang remah akan menyediakan oksigen bagi akar. Oksigen berasal dari udara yang mengisi pori-pori media. Oksigen sangat diperlukan oleh akar untuk pertumbuhannya.
2. Kandungan hara
Kandungan hara yang banyak bukanlah syarat mutlak untuk media tanam, karena unsur hara bagi pertumbuhan tanaman dapat diperoleh kapan saja dengan pemberian pupuk. Jika kandungan unsur hara dalam media tanam sudah tinggi, pemberian pupuk tidak lagi diperlukan atau pemberiannya ditunda setelah hara dalam media berkurang. Ketersediaan hara dalam media bisa dikenali dari gejala-gejala pada tanaman. Namun perlu kejelian untuk menilai gejala tersebut, apakah karena kekurangan unsur hara atau diakibatkan oleh faktor lain.
3. Tidak mengandung bahan yang beracun (Toksik)
Ada bahan yang mengandung zat tertentu yang jika bahan tersebut digunakan sebagai media/campuran media tanam akan menghambat pertumbuhan tanaman. Untuk menghindari hal itu, maka biasanya bahan tersebut diberi perlakuan suhu misalnya di-steam. Di lahan-lahan pertanian jarang terjadi keracunan tanaman akibat zat-zat kimia, kecuali ada limbah-limbah industri yang mencemari lahan tersebut.
4. Tingkat keasaman pH yang baik
pH media berpengaruh terhadap ketersediaan unsur hara bagi tanaman. Media tanam dengan pH yang tinggi dapat diturunkan dengan perlakuan bahan asam kuat, jika pH terlalu rendah dapat diubah dengan perlakuan bahan alkalis (basa) kuat. Tingkat keasaman media yang baik berkisar pada angka 7 (pH netral).
5. Tidak mengandung hama dan penyakit
Untuk memastikan media tanam tidak mengandung hama & penyakit, bisa dilakukan sterilisasi.
6. Memiliki daya memegang air yang cukup
Media tanam yang mempunyai daya ikat/memegang air yang cukup baik, berarti dari sekali penyiraman, airnya bisa dimanfaatkan oleh tanaman selama beberapa hari dan kelembaban media akan stabil dalam jangka waktu yang cukup lama, namun airnya tidak menggenang berlebihan dalam media.
7. Memiliki daya penyangga
Daya penyangga yang dimaksud adalah kemampuan media untuk menyerap hara dan kemudian melepaskannya sedikit demi sedikit. Bahan organik merupakan bahan media yang memiliki sifat tersebut dan juga memiliki daya memegang air yang cukup baik.
8. Mudah sulitnya pelapukan bahan
Bahan yang tidak mudah lapuk tidak memerlukan penambahan atau penggantian yang terlampau sering. Di sisi lain, bahan yang tidak mudah lapuk tidak mempunyai unsur hara yang berasal dari pelapukan tersebut.
9. Murah, mudah didapat dan berbobot ringan
Dari segi bisnis untuk usaha yang berskala besar, harga yang murah dan kemudahan mendapatkan media tanam tersebut sangat menunjang kelancaran usaha. Media tanam yang ringan berkaitan dengan kemudahan dalam hal transportasi atau jika sistem pertanaman dengan menggunakan sistem rak bersusun.

   C. Bahan-Bahan untuk Media Tanam
Jika Anda bercocok tanam di lahan, tentu media tanamnya adalah hamparan tanah di lahan tersebut. Supaya lahan tersebut memenuhi kriteria media tanam yang ideal sebagaimana dijelaskan diatas, maka sebelum tanam dilakukan pengolahan tanah terlebih dahulu dengan cara dicangkul atau dibajak agar tanah menjadi remah,  kemudian lahan dibersihkan dari gulma, diberi kapur dolomit untuk menetralkan pH tanah, ditaburi kompos sebagai pupuk dasar.
Jika Anda ingin bercocok tanam menggunakan wadah/POT, pada prinsipnya sama seperti bercocok tanam di lahan. Terlebih dahulu Anda mempersiapkan media tanam yang ideal. Media tanam yang utama dan paling umum digunakan adalah tanah. Karena Tanah mudah didapatkan dimanapun, secara mudah dan murah. Tanah yang digunakan hendaknya tanah dari lapisan atas karena banyak mengandung bahan-bahan organik dan usur-unsur hara. Supaya memenuhi kriteria media tanam yang ideal sebagaimana dijelaskan diatas, maka tanah tersebut perlu dimodifikasi dicampur dengan bahan lain.
Namun jika Anda ingin bercocok tanam secara hidroponik, media tanah tidak digunakan, diganti dengan media tanam lain disesuaikan dengan sistem hidroponik  yang akan diterapkan.
Berikut ini adalah bahan-bahan yang biasa digunakan sebagai media tanam untuk campuran media tanah untuk menanam tanaman buah dalam wadah/POT. Untuk mendapatkan media tanam yang baik, pemahaman mengenai karakteristik setiap bahan tersebut harus diketahui.
Berdasarkan asal bahan penyusunnya, secara garis besar  media tanam terbagi menjadi dua,  yaitu media tanam organik dan anorganik.

1. Sekam Padi
Saya yakin Anda sudah tahu sekam padi, kalau belum datang ke tempat penggilingan padi. 
Sekam padi adalah kulit biji padi yang sudah digiling. Sebagai media tanam, sekam padi berperan penting dalam perbaikan struktur tanah sehingga sistem aerasi dan drainase  media tanam menjadi lebih baik. Kelebihan sekam mentah yaitu mudah mengikat air, tidak mudah lapuk, mengandung banyak unsur silikat yang berpengaruh baik dalam penguatan sel dan jaringan tanaman, tidak mudah menggumpal atau memadat sehingga akar tanaman dapat  tumbuh dengan sempurna. 
Namun, sekam padi mentah cenderung miskin akan unsur hara, berpotensi tumbuhnya gulma berupa anak-semai padi, dan membawa hama kutu yang seringkali mengganggu pertumbuhan tanaman. Sekam mentah yang berasal dari kulit padi, menjadi pilihan banyak pedagang tanaman hias karena harganya yang murah dan ringan. 

2.  Arang Sekam Padi

Arang Sekam Padi

Arang sekam diperoleh dari pembakaran tidak sempurna sekam mentah. Bedakan arang sekam dengan abu sekam. Kalau arang sekam berwarna hitam.

Berdasarkan analisis Japanese Society for Examining Fertilizer and Fodders, komposisi arang sekam paling banyak mengandung SiO2 yaitu 52 % dan unsur C sebanyak 31 %. Komposisi lainnya adalah Fe2O3, K2O, MgO, CaO, MnO dan Cu dalam jumlah yang sangat kecil, juga mengandung bahan-bahan organik, arang sekam mengandung N 0,32 %, P 0,15 %, K 0,3 1, Ca 0,96 %, Fe 180 ppm, Mn 80,4 ppm, Zn 14,10 ppm dan pH 6,8. Karakteristik lain dari arang sekam adalah ringan (Berat Jenis 0,2 kg/l), kasar sehingga sirkulasi udara tinggi, kapasitas menahan air tinggi.
pH sekam bakar antara 8.5 - 9. pH yang tinggi ini dapat digunakan untuk meningkatkan pH tanah asam.
Cara membuat arang sekam, Anda bisa lihat di Link ini

Arang dan sekam mentah memiliki tingkat porositas yang sama. Sebagai media tanam, keduanya berperan penting  dalam perbaikan struktur tanah sehingga sistem aerasi dan drainase media tanam menjadi lebih baik. Penggunaan arang sekam untuk media tanam tidak perlu disterilisasi lagi karena mikroba patogen telah mati selama proses pembakaran. Selain itu, arang sekam juga memiliki kandungan karbon (C) yang  tinggi sehingga membuat media tanam ini menjadi gembur. Namun, arang  sekam cenderung mudah lapuk.

3. Pupuk Kandang
Pupuk organik yang berasal dari kotoran hewan disebut sebagai pupuk kandang. Kandungan unsur haranya yang lengkap seperti natrium (N), fosfor (P), dan kalium (K) membuat pupuk kandang cocok untuk dijadikan sebagai media tanam. Selain itu, pupuk kandang memiliki kandungan mikroorganisme yang mampu merombak bahan organik yang sulit dicerna tanaman menjadi komponen yang lebih mudah untuk diserap oleh tanaman.
Komposisi kandungan unsur hara pupuk kandang sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain jenis hewan, umur hewan, jenis makanan, dan cara penyimpanan sebelum diaplikasikan sebagai media tanam. Pupuk kandang yang akan digunakan sebagai media tanam harus yang sudah matang dan steril. Hal itu ditandai dengan warna pupuk yang hitam pekat dan tidak berbau kotoran. Pemilihan pupuk kandang yang sudah matang bertujuan untuk mencegah munculnya bakteri atau cendawan yang dapat merusak tanaman.

4. Kompos
Kompos merupakan media tanam organik yang bahan dasarnya berasal dari proses fermentasi tanaman atau limbah organik, seperti jerami, sekam, daun, rumput, dan sampah kota. Kelebihan dari penggunaan kompos sebagai media tanam adalah sifatnya yang mampu mengembalikan kesuburan tanah melalui perbaikan sifat-sifat tanah, baik fisik, kimiawi, maupun biologis.
Kandungan bahan organik yang tinggi dalam kompos sangat penting untuk memperbaiki kondisi tanah. Berdasarkan hal tersebut dikenal 2 peranan kompos yakni soil conditioner dan soil ameliorator. Soil condotioner yaitu peranan kompos dalam memperbaiki struktur tanah, sedangkan soil ameliorator berfungsi dalam memperbaiki kemampuan tukar kation pada tanah.
Kompos yang baik untuk digunakan sebagai media tanam yaitu yang telah mengalami pelapukan secara sempurna, ditandai dengan perubahan warna dari bahan pembentuknya (hitam kecokelatan), tidak berbau, memiliki kadar air yang rendah, dan memiliki suhu ruang.
Kualitas kompos tergantung pada bahan dasar yang digunakan dan cara pengomposan. Salah satu kunci agar didapat kompos yang berkualitas baik adalah cara merangsang dan mengembangkan bakteri-bakteri pembusuk karena terjadinya proses pengomposan disebabkan oleh aktivitas mikroorganisme. Pengomposan juga dimaksudkan untuk menurunkan kadar karbon terhadap nitrogen atau C/N ratio.

5. Humus
Lapisan Tanah

Humus  hampir serupa dengan kompos. Bahan dasar humus berupa sisa tanaman yang telah mengalami dekomposisi secara alami di dalam tanah oleh mikroorganisme pengurai. Proses dekomposisi ini hanya terdapat dalam ekosistem hutan pada lapisan tanah paling atas. Oleh sebab itu, humus merupakan pupuk organik yang termasuk langka dan harganya relatif mahal. Karena tingkat pelapukannya sudah lanjut, maka rasio C/N-nya kecil sehingga sangat baik untuk tanaman.
Humus

6. Sabut Kelapa 
Sabut kelapa merupakan bagian terluar buah kelapa yang membungkus tempurung kelapa. Komposisi kimia sabut kelapa terdiri atas selulosa, lignin, pyroligneous acid, gas, arang, ter, tannin, dan potassium.
Produk primer dari pengolahan sabut kelapa terdiri atas serat (serat panjang), bristle (serat halus dan pendek), dan debu sabut. Debu sabut dapat diproses jadi kompos dan cocopeat, dan particle board/hardboard.Cocopeat digunakan sebagai substitusi gambut alam untuk industri bunga dan pelapis lapangan golf. Pemanfaatan lain sabut kelapa adalah sebagai coco peat yaitu sabut kelapa yang diolah menjadi butiran-butiran gabus sabut kelapa. Coco peat dapat menahan kandungan air dan unsur kimia pupuk serta dapat menetralkan keasaman tanah. Karena sifat tersebut, sehingga coco peat dapat digunakan sebagai media yang baik untuk pertumbuhan tanaman.
Cocopeat

Cocopeat diolah dari sabut kelapa. Sebelum diolah, sabut kelapa direndam selama 6 bulan untuk menghilangkan senyawa-senyawa kimia yang dapat merugikan tanaman seperti tanin. Senyawa itu dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Setelah dikeringkan, sabut kelapa itu dimasukkan ke dalam mesin untuk memisahkan serat dan jaringan empulur. Hasil penelitian Dr Geoff Creswell, dari Creswell Horticultural Service, Australia, media tanam cocopeat sanggup menahan air hingga 73%. Dari 41 ml air yang dialirkan melewati lapisan cocopeat, yang terbuang hanya 11 ml. Jumlah itu jauh lebih tinggi daripada sphagnum moss yang hanya 41%. Secara umum, derajat keasaman media cocopeat 5,8-6. 
Karena kemampuan cocopeat menahan air cukup tinggi, hindari pemberian air berlebih. Pada beberapa jenis tanaman, media terlalu lembap dapat menyebabkan busuk akar. Oleh sebab itu,penggunaan cocopeat perlu dicampur dengan bahan lain yang daya ikat airnya tidak begitu tinggi seperti pasir atau arang sekam. 
Kandungan klor/Cl pada cocopeat cenderung tinggi. Bila klor bereaksi dengan air, ia akan membentuk asam klorida. Akibatnya, kondisi media menjadi asam. Sedangkan tanaman umumnya menghendaki kondisi netral. Sydney Environmental and Soil Laboratory, Australia, mensyaratkan kadar klor pada cocopeat tidak boleh lebih dari 200 mg/l. Oleh sebab itu, pencucian bahan baku cocopeat sangat penting. Untuk antisipasi, setiap kali membeli cocopeat, rendam hingga selama tiga hari sebelum digunakan. Air rendaman diganti setiap hari.
Hanya saja unsur hara tanah tidak tersedia dalam cocopeat untuk itu pupuk masih sangat dibutuhkan.
Kekurangan cocopeat adalah banyak mengandung zat Tanin. Zat Tanin diketahui sebagai zat yang menghambat pertumbuhan tanaman. Untuk menghilangkan zat Tanin yang berlebihan, maka bisa dilakukan dengan cara merendam cocopeat di dalam air bersih selama beberapa jam, lalu diaduk.
Dengan menggunakan cocopeat sebagai media tanam penyiraman dapat dilakukan dengan lebih jarang. Penyiraman dilakukan setelah media kering.

7. Pasir
Pasir dapat digunakan sebagai media untuk penyemaian benih, pertumbuhan bibit tanaman, dan perakaran setek batang tanaman. Sifatnya yang cepat kering akan memudahkan proses pengangkatan bibit tanaman yang sudah cukup umur untuk dipindahkan ke media lain. Sementara bobot pasir yang cukup berat akan mempermudah tegaknya setek batang. Keunggulan media tanam pasir adalah dapat meningkatkan sistem aerasi serta drainase media tanam. 
Pasir malang dan pasir bangunan merupakan Jenis pasir yang sering digunakan sebagai media tanam. Pasir pantai atau semua pasir yang berasal dari daerah yang ber-salinitas tinggi merupakan jenis pasir yang harus dihindari untuk digunakan sebagai media tanam, kendati pasir tersebut sudah dicuci terlebih dahulu. Kadar garam yang tinggi pada media tanam dapat menyebabkan tanaman menjadi merana. Selain itu, organ-organ tanaman, seperti akar dan daun, juga memperlihatkan gejala terbakar yang selanjutnya mengakibatkan kematian jaringan (nekrosis). Oleh karena memiliki pori-pori berukuran besar (pori-pori makro) maka pasir menjadi mudah basah dan cepat kering oleh proses penguapan. Kohesi dan konsistensi (ketahanan terhadap proses  pemisahan) pasir sangat kecil sehingga mudah terkikis oleh air atau angin. Dengan demikian, media pasir perlu pengairan dan pemupukan yang lebih intensif. Hal tersebut yang menyebabkan pasir jarang digunakan sebagai media tanam secara tunggal. Penggunaan pasir sebagai media tanam harus dikombinasikan dengan campuran bahan anorganik atau bahan organik.
Perbandingan kelebihan dan kekurangan setiap bahan media tanam:
1. Sekam Padi
Kelebihan : Bobot ringan, Murah dan mudah diperoleh, Tidak mudah lapuk, Dapat meningkatkan drainase dan aerasi media tanam
Kekurangan : Potensi menimbulkan gulma/hama, Miskin hara
2. Arang Sekam Padi
Kelebihan  : Bobot ringan, Dapat meningkatkan drainase dan aerasi media tanam, Sudah steril
Kekurangan : Mudah lapuk, Miskin hara
3. Pupuk Kandang
Kelebihan : Dapat meningkatkan kualitas tanah secara fisik-kimia-biologi, Mengandung unsur hara
Kekurangan : Bobotnya berat, Potensi menimbulkan gulma, Kualitasnya bervariatif
4. Kompos
Kelebihan : Dapat meningkatkan kualitas tanah secara fisik-kimia-biologi, Mengandung unsur hara
Kekurangan : Bobotnya berat, Kualitasnya bervariatif
5. Humus
Kelebihan : Dapat meningkatkan kualitas tanah secara fisik-kimia-biologi, Mengandung unsur hara yang lengkap
Kekurangan : Susah diperoleh, Harga relatif lebih mahal
6. Serbuk Sabut Kelapa
Kelebihan : Bobot Ringan, Tidak mudah lapuk, Daya ikat dan daya simpan air yang tinggi
Kekurangan : Kandungan hara rendah, Kemungkinan masih mengandung zat racun/tanin
7. Pasir   
Kelebihan : Mudah didapat, Meningkatkan porositas media tanam
Kekurangan : Bobotnya berat, Miskin hara

D. Media Tanam Tanaman Buah dalam POT 
     ( TaBuLamPOT ) 
    Media tanam adalah salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan penanaman tanaman buah dalam pot, karena media jumlahnya dibatasi oleh volume pot, sehingga komposisi yang tepat akan membuat perakaran tanaman dapat berkembang dengan baik untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Media tanam terbuat dari campuran berbagai bahan untuk memenuhi syarat-syarat sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya. 
Apapun jenis tanah mineral yang ada di sekitar kita, bisa digunakan sebagai bagian dari media tanam, dengan catatan bahwa tanah yang akan digunakan adalah tanah murni, bukan tanah campuran bekas bongkaran bangunan, bukan tanah yang tercemar limbah beracun, bukan tanah dengan kadar garam tinggi, dan sebagainya. Karakteristik tanah berbeda-beda di setiap tempat, begitu pula kesuburannya. Oleh karena itu, untuk dapat menentukan komposisi media tanam yang baik, Anda harus mengetahui karakteristik tanah yang Anda gunakan. Dalam ilmu tanah, para ahli telah menyusun sistem klasifikasi tanah berdasarkan sudut pandang tertentu.


      Tanah terdiri dari 4 penyusun utama, yaitu :
1. Bahan mineral
2. Bahan organik
3. Air
4. Udara

Bahan mineral merupakan hasil pelapukan dari batu-batuan di dalam bumi. Bahan mineral mempunyai berbagai ukuran, yaitu :
 

      1. sangat kasar (berupa batu/kerikil) 
      2. kasar (berupa pasir) 
      3. halus (berupa debu) 
      4. sangat halus ( berupa lempung) 

     Perbandingan kandungan partikel-partikel tanah berupa lempung, debu dan pasir dalam suatu massa tanah disebut tekstur tanah. Berkaitan dengan hal ini terdapat sebutan tanah ringan dan tanah berat. Tanah bertekstur halus, dapat menyerap air dalam jumlah banyak, bersifat plastis, lengket sehingga sukar diolah disebut tanah berat atau tanah dengan kandungan lempung tinggi. Sedangkan tanah bertekstur kasar atau berpasir tinggi cenderung mudah lepas dan mudah diolah, sehingga disebut tanah ringan. Setelah Anda mengetahui karakteristik tanah dan bahan-bahan media tanam lain yang akan digunakan, kemudian Anda tinggal memilih bahan-bahan lain yang mudah didapat disekitar Anda dan murah harganya. Campur bahan-bahan tersebut dengan komposisi tertentu agar sesuai dengan kriteria sebagaimana dijelaskan diatas. Sebelum dicampur bahan lain, sebaiknya tanah disaring dengan menggunakan ayakan berdiameter 0,5 cm untuk mendapatkan butiran tanah yang homogen dan bebas dari campuran batu, kerikil, maupun partikel bukan tanah lainnya. 
      Anjuran secara umum untuk semua jenis tanaman buah, pembuatan media tanam untuk tabulampot adalah sebagai berikut :

     a. Jika tanah yang digunakan tergolong tanah berat dengan kandungan fraksi lempung yang tinggi sehingga bersifat sangat liat, maka anjuran komposisi media tanamnya adalah 1 bagian tanah dicampur dengan 1 bagian pupuk kandang (sapi/kambing/kerbau/kelinci) dan 3 bagian sekam segar atau sekam bakar atau kombinasi sekam segar dan sekam bakar.
     Jangan menggunakan abu sekam untuk campuran media tanam karena dalam kondisi jenuh air, kombinasi tanah berat dengan abu sekam akan menghasilkan efek melumpur (seperti lumpur) yang justru mengganggu drainase dan aerasi dalam media tanam. Tanah jenis ini tergolong tanah yang miskin pori-pori, baik pori makro maupun pori mikro, dan karena kandungan fraksi lempungnya yang tinggi, maka kemampuan ikat airnya sangat tinggi, dengan kata lain, tanah mampu menyimpan air dengan sangat baik namun dengan drainase yang buruk. Dalam kondisi seperti ini, pertumbuhan akar akan terhambat akibat adanya penggenangan air dalam tanah. Penambahan pupuk organik bertujuan untuk memperbaiki struktur tanah agar tanah menjadi lebih remah (crumb) dan akar bisa tumbuh dengan leluasa, sementara penambahan sekam padi bertujuan untuk memperbaiki porositas tanah, menambah jumlah pori makro untuk meneruskan kelebihan air dalam tanah (fungsi pengatusan air) serta menambah jumlah pori mikro untuk menyimpan oksigen (fungsi aerasi atau fungsi pernafasan bagi akar). 

b.  Tanah-tanah sedang dengan komposisi fraksi lempung, debu, dan pasir yang seimbang, umumnya relatif ideal dijadikan media tanam tabulampot, namun tetap perlu dimodifikasi agar menjadi lebih ideal. Ideal untuk pertumbuhan akar di bagian bawah serta manifestasi pertumbuhan tanaman yang sehat di bagian atas. Campurkan merata 1 bagian tanah sedang , dengan 0,5 hingga 1 bagian pupuk kandang, dan 1 atau 2 bagian sekam, disesuaikan dengan kebutuhan tanaman yang berbeda antar tanaman yang satu dengan tanaman lainnya.

c.  Tanah dengan fraksi pasir yang dominan, digolongkan sebagai tanah ringan karena mudah diolah, baik dalam keadaan basah apalagi dalam keadaan kering. Tanah jenis ini umumnya terdapat di daerah di sekitar gunung berapi yang masih aktif, biasanya miskin akan kandungan bahan organik, strukturnya sangat remah cenderung rapuh, komposisi pori makro yang sangat tinggi dibanding jumlah pori mikronya, sangat mudah meneruskan kelebihan air, dan miskin kandungan unsur hara nitrogen. Karenanya, jika dibuat sebagai media tanam tabulampot, tanah jenis ini harus diperbaiki sifat-sifat fisikanya, sifat kimianya dan sifat biologinya dengan mencampurkan 1 bagian tanah dengan 2 bagian pupuk kandang, dan 1 bagian sekam, atau tergantung kebutuhan dilihat dari sumber tanahnya, apakah tanah diperoleh dari daerah yang tergolong subur atau kurang subur. 
Penambahan bahan organik seperti pupuk kandang sekaligus akan memperbaiki sifat fisika tanah (memperbaiki struktur tanah menjadi lebih remah), sifat kimia (menambah kandungan unsur hara organik makro dan mikro) serta memperbaiki sifat biologinya (meningkatkan jumlah dan jenis mikrobia tanah). 
Ciri utama media tanam yang baik adalah tidak gampang memadat meski telah digunakan dalam kurun waktu cukup lama, dan media seperti ini hanya dapat diperoleh dengan cara memodifikasi media tanam dengan bahan-bahan yang tersedia di sekitar kita dan mudah untuk mendapatkannya. 

Penggunaan pupuk kandang dan sekam padi sebagai campuran media tanah seperti dijelaskan di atas hanyalah sebagai contoh. Karena kedua bahan tersebut mudah di dapatkan, apalagi jika Anda tinggal di daerah pedesaan, mudah dijumpai tempat penggilingan padi dan peternakan hewan yang menjadi sumber pupuk kandang. Jika Anda tinggal di daerah perkotaan, Pupuk kandang bisa diganti dengan pupuk kompos, yang mudah di peroleh dengan membeli di tempat Penjual Bibit Tanaman yang pasti menyedaikannya. Sekam padi juga bisa diganti dengan pasir atau serbuk sabut kelapa. Jika Anda mau praktisnya, Anda tinggal membeli media tanam yang sudah jadi yang juga biasanya tersedia di tempat penjual bibit tanaman. 

Untuk menguji kualitas media tanam yang telah Anda buat, khususnya kualitas fisiknya, lakukan tips berikut ini : ambil segenggam media tanam yang telah dibuat dan dalam keadaan lembab (sedikit basah), lalu kepal dengan kuat dalam genggaman tangan. Jika saat genggaman tangan dibuka dan gumpalan media tanam pecah (Jawa : ambyar), itu berarti komposisi media tanam telah ideal secara fisik. Namun jika saat genggaman tangan dibuka dan media tanam berada dalam kondisi menggumpal, berarti diperlukan penambahan sekam segar atau sekam basah dalam jumlah secukupnya agar komposisi ideal media tanam dapat terbentuk sebagaimana telah dicontohkan sebelumnya.    
Penggunaan media tanam tabulampot dengan komposisi yang ideal akan sangat menunjang pertumbuhan akar menjadi lebih optimal, akar dapat tumbuh dengan leluasa karena mendapatkan suplai oksigen dan air dalam jumlah memadai, dan dalam kondisi pertumbuhan optimal tersebut, akar dapat menjalankan fungsinya untuk menyerap air dan hara-hara yang diperlukan dari dalam media tanam untuk disinergikan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman.