Tampilkan postingan dengan label Pestisida. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pestisida. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Agustus 2017

Cara Membuahkan Tanaman Buah di Luar Musim Menggunakan ZPT


GOBEST 250 SC : ZPT Paklobutrazol

         Salah satu upaya agar tanaman buah dapat berbuah diluar musimnya adalah dengan menggunakan Zat Pengatur Tumbuh/ZPT.  ZPT tidak seperti pupuk, zpt tidak memberikan tambahan unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Fungsinya dalam jaringan tanaman adalah mengatur proses fisiologi  seperti pembelahan sel. Pemberian ZPT mutlak harus diikuti dengan dengan pemupukan dan pengairan yang intensif. Ketika akan menggunakan ZPT, kondisi tanaman harus dipersiapkan agar dalam kondisi prima. Saat aplikasi umur tanaman sudah cukup dewasa (telah memasuki usia produktif).

        Zat Pengatur Tumbuh yang sudah umum digunakan adalah ZPT yang berbahan aktif paklobutrazol. ZPT ini bisa digunakan untuk berbagai macam tananam, namun yang lebih spesifik digunakan untuk tanaman buah mangga seperti yang sudah biasa dilakukan oleh pekebun mangga di Kabupaten Pemalang, supaya tanaman mangga bisa berbuah di luar musim, mereka mengaplikasikan produk ini. 
untuk informasi lebih detail cara aplikasinya lihat artikel Cara Penggunaan Zat Pengatur Tumbuh/ZPT Paklobutrazol yang Benar pada Beberapa Jenis Tanaman 


        Banyak merk dagang ZPT dengan bahan aktif paklobutrazol yang beredar di pasaran dengan harga yang bervariasi. Salah satunya adalah merk GOBEST 250SC, produk dengan harga yang ekonomis tapi memiliki khasiat yang sama dengan merk-merk lain.

Kamis, 19 Januari 2017

Cara Penggunaan Zat Pengatur Tumbuh/ZPT Paklobutrazol yang Benar pada Beberapa Jenis Tanaman

Gambar Ikon Buah Mangga

        Pestisida pertanian sebagai produk perlindungan tanaman, tidak semua bekerja dengan cara membunuh organisme sasaran. Secara harfiah arti kata pestisida adalah membunuh hama. Secara pengertian, pestisida  pertanian meliputi semua zat kimia, campuran zat kimia, atau bahan-bahan lain (ekstrak tumbuhan, mikro-organisme, dan hasil fermentasi) yang digunakan untuk keperluan (1) Mengendalikan atau membunuh organisme pengganggu tanaman (OPT). (2) Mengatur pertumbuhan tanaman, dalam arti merangsang atau menghambat pertumbuhan dan mengeringkan tanaman.

Senin, 08 Agustus 2011

Bagaimana Cara Pengendalian OPT ?



 Serangan Hama Lalat Buah Cabe.
Kebijakan produksi pertanian pada saat ini diarahkan pada tuntutan untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan nasional dan juga untuk dapat memenuhi kebutuhan ekspor. Salah satu strategi pencapaian sasaran produksi untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional diupayakan melalui mengurangi kehilangan hasil dengan mengendalikan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).

DAFTAR ISTILAH YANG BERKAITAN DENGAN PESTISIDA DAN PENGGUNAANNYA



Bahan Aktif adalah bahan kimia dan atau bahan lain yang terkandung dalam
Pestisida dan pada umumnya merupakan bahan yang berdaya racun.

Batas Maksimum Residu (BMR), merupakan batas dugaan maksimum residu
Pestisida yang ada dalam berbagai hasil pertanian yang diperoleh.

Decomposition Time 50 (DT 50), waktu yang diperlukan untuk terjadinya 50%
dekomposisi berupa disipasi dan degradasi suatu bahan kimia di suatu
media.

Dosis, Takaran/ ukuran dalam liter, gram atau kg yang digunakan untuk
mengendalikan hama atau penyakit per satuan luas tertentu.

Formulasi adalah campuran bahan aktif dengan bahan lainnya dengan kadar
dan bentuk tertentu yang mempunyai daya kerja sebagai Pestisida
sesuai dengan tujuan yang direncanakan.

Eksplosi, Serangan OPT yang sifatnya mendadak, populasinya berkembang
sangat cepat dan menyebar luas dengan pesat.

Insektisida Non Sistemik adalah Pestisida yang setelah
diaplikasikan/disemprotkan pada tanaman sasaran tidak diserap oleh
organ-organ tanaman, baik lewat akar, batang atau daun.

Insektisida Sistemik adalah salah satu jenis insektisida yang dapat diserap
oleh organ-organ tanaman, baik lewat akar, batang atau daun.

Insektisida Sistemik Lokal adalah kelompok insektisida yang dapat diserap
oleh jaringan (umumnya daun), tetapi ditranslokasikan ke bagian
tanaman lainnya.
Iritasi adalah gejala inflamasi yang terjadi pada kulit atau membran mukosa,
segera setelah perlakuan berkepanjangan atau berulang dengan
menggunakan bahan kimia atau bahan lain.

Label adalah tulisan dan dapat disertai dengan gambar atau simbol, yang
memberikan keterangan tentang pestisida, dan melekat pada wadah
atau pembungkus Pestisida.

Lethal Concentration 50 (LT50), konsentrasi yang diturunkan secara statistik
yang dapat diduga menyebabkan kematian 50% dari populasi organisme
dalam serangkaian kondisi percobaan yang telah ditentukan.

Lethal Time 50 (LT50), waktu dalam hari yang diperlukan untuk mematikan 50%
hewan percobaan dalam kondisi tertentu.

Lethal Dose 50 (LD50), dosis tunggal bahan kimia atau bahan lain yang
diturunkan secara statistik yang dapat diduga menyebabkan kematian
50% dari populasi organisme dalam serangkaian kondisi percobaan
yang telah ditentukan.

Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), Semua organisme yang dapat
merusak/ mengganggu kehidupan atau menyebabkan kematian pada
tanaman pangan dan hortikultura, termasuk di dalamnya adalah hama,
penyakit dan gulma.

Pencelupan (Dipping) adalah salah satu cara melindungi bahan tanaman agar
terhindar dari hama atau penyakit bahan tanaman, biasanya
pencelupan dilakukan dengan mencelupkan bibit atau stek kedalam
larutan Pestisida.

Pengasapan (Fogging) adalah penyemprotan Pestisida dengan volume ultra
rendah dengan menggunakan ukuran droplet yang sangat halus.
Pengembusan (Dusting) adalah salah satu cara aplikasi suatu Pestisida yang
diformulasi sebagai tepung hembus.

Pestisida untuk penggunaan umum adalah Pestisida yang dalam
penggunaannya tidak memerlukan persyaratan dan alat-alat
pengamanan khusus di luar yang tertera pada label.
Pestisida untuk penggunaan terbatas adalah Pestisida yang dalam
penggunaannya memerlukan persyaratan dan alat-alat pengamanan
khusus di luar yang tertera pada label.

Pestisida Dilarang, adalah suatu jenis Pestisida yang di larang untuk semua
bidang penggunaan atau bidang penggunaan tertentu dengan tujuan
melindungi kesehatan manusia dan lingkungan hidup.

Racun Kontak adalah salah satu insektisida yang dapat masuk ke dalam tubuh
serangga lewat kulit bersinggungan langsung (kontak langsung).

Racun Lambung (Racun Perut, Stomach Poison) adalah insektisida yang
membunuh serangga sasaran bila insektisida tersebut masuk ke
dalam organ pencernaan serangga dan diserap oleh dinding saluran
pencernaan.

Racun Pernapasan adalah suatu jenis insektisida yang bekerja lewat saluran
pernapasan.

Residu Pestisida adalah sisa-sisa Pestisida, termasuk hasil perubahannya yang
terdapat atau dalam jaringan manusia, hewan, tumbuhan, air, udara
atau tanah.

Resistensi adalah menurunnya kepekaan hama, penyebab penyakit dan /atau
gulma terhadap Pestisida tertentu (Kebal).

Resistensi Hama, suatu fenomena perubahan populasi hama yang didominasi
oleh individu-individu peka menjadi suatu populasi yang didominasi
oleh individu-individu resisten terhadap Pestisida tertentu. Perubahan
ini menyebabkan Pestisida yang awalnya efektif untuk mengendalikan
hama menjadi tidak efektif lagi.

Resurjensi adalah peningkatan populasi organisme sasaran setelah perlakuan
dengan Pestisida.
Resurjensi Hama, adalah suatu fenomena meningkatnya serangan hama
tertentu sesudah perlakuan dengan insektisida.

Seed Dressing (SD) atau Seed Treatment (ST) adalah Pestisida berbentuk
tepung yang khusus digunakan untuk perawatan benih.

Selektivitas Herbisida adalah kemampuan insektisida memilih tumbuhan yang
dikendalikannya dalam hubungannya dengan tanaman pokok.

Selektivitas Insektisida adalah kemampuan insektisida memilih OPT sasaran
tanpa merugikan organisme non target termasuk musuh alami hama.

Soluble Liquid (SL) adalah Pekatan cair bila dicampur air akan membentuk
larutan. Pestisida ini digunakan dengan cara disemprotkan.

Tepung Hendus atau Dust (D) adalah Pestisida siap pakai dengan konsentrasi
rendah yang digunakan dengan cara dihembuskan
Ultra Low Volume (ULV) adalah sediaan khusus untuk penyemprotan dengan
volume ultra rendah.

Umpan atau Bait (B) Ready Mix Bait (RB atau RMB) adalah formulasi siap
pakai yang umumnya digunakan untuk formulasi rodentisida sebagai
umpan.

Wadah adalah tempat yang terkena langsung Pestisida untuk menyimpan
selama dalam penanganan.

Water Dispersible Granule (WG atau WDG)adalah adalah bentuk butiran,mirip G
(Granule) tetapi penggunaannya sangat berbeda yaitu harus
diencerkan dengan air dan digunakan dengan cara disemprotkan.

Wettable Powder (WP) adalah bentuk formulasi tepung (WP) yang dapat
disuspensikan dalam air.



Jumat, 24 Juni 2011

“Resep-Resep Obat” untuk Pengendalian Gulma


Gambar . Herbisida (racun rumput) buatan pabrik
 
 
Jumlah merk dagang herbisida yang beredar di pasaran semakin beraneka macam, terutama herbisida dengan bahan aktif glifosat. Peningkatan ini seiring dengan semakin banyaknya jumlah perusahaan agrokimia dan semakin banyaknya impor produk bahan aktif herbisida yang masuk ke Indonesia. Hal ini terjadi karena para pelaku bisnis industri agrokimia melihat penggunaan herbisida dalam usaha budidaya pertanian semakin meningkat, maka peluang bisnis ini semakin terbuka lebar.
Demi kepraktisan, para petani atau pelaku usaha budidaya pertanian lebih memilih menggunakan cara kimia_menggunakan herbisida_daripada menggunakan cara manual dalam usaha pengendalian gulma. Semakin sering bahan kimia herbisida yang sama diaplikasikan secara terus-menerus menyebabkan gulma menjadi kebal/resisten terhadap bahan kimia tersebut. Sama halnya dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman, penggunaan bahan kimia insektisida dan fungisida yang sama secara terus-menerus, juga akan mengakibatkan adanya resistensi.  Umumnya para petani kemudian meningkatkan dosis aplikasi untuk menyikapi keadaan ini, yang secara otomatis akan meningkat pula biaya yang harus dikeluarkan.
Untuk menyiasati supaya biaya belanja produk herbisida bisa dipangkas, para petani “mencari akal” melakukan coba-coba menggunakan berbagai macam bahan sebagai pengganti herbisida buatan pabrik atau sebagai campuran sehingga herbisida yang digunakan efikasi-nya (kemampuan "membunuh" gulma) meningkat. Bahan-bahan yang digunakan mudah didapat dan harganya juga murah. Dengan adanya campuran tersebut penggunaan herbisida lebih ngirit (dosis lebih rendah) namun hasilnya memuaskan. Dengan demikian biaya yang dikeluarkan juga lebih ngirit.
Berikut beberapa resep  yang dikutip dari http://tanimakmursejahter.blogspot.com/  

1. RESEP 5in1 (Five in One) alias GUS BenSol

Resep ini bisa saja diberi nama Racun Rumput FiO, atau Racun Rumput GUS BenSol. FiO artinya Five in One, sedangkan Gus Bensol maksudnya Garam Urea Sabun serbuk Bensin dan Solar. Mungkin nama yang enak didengar adalah Racun Rumput GUS BenSol, biar keren dan mudah terkenal. Bagaimana?

Bahan-bahan yang diperlukan :
1. Bensin 1 liter
2. Solar 1 liter
3. Garam 1 kg
4. Urea 1 kg
5. Sabun Serbuk 1 kg

Cara membuat :
1. Semua bahan-bahan di campur satu persatu, mulai dari bensin dan solar dalam satu wadah.
2. Pada wadah yang lain kemudian garam dan urea serta sabun serbuk dicampur.
3. Wadah satu yang berisi campuran bensin dan solar dicampurkan sedikit demi sedikit sambil terus diaduk-aduk dituangkan pada wadah kedua yang berisi campuran garam, urea dan sabun serbuk.
4. Pengadukan dilakukan terus-menerus sampai campuran tadi menjadi larutan yang menyatu.
5. Bahan racun rumput (FiO) Five in One alias GUS Bensol siap digunakan. Simpanlah pada wadah yang aman dan tertutup jauhkan dan hindarkan dari nyala api, karena bahan ini mudah terbakar.

Cara Penggunaan :
Cara penggunaan sama dengan penggunaan herbisida/racun rumput lainnya. Yaitu kalau kita ingin menyemprot dengan pompa sprayer berisi 15 liter air campurkan sekitar 50 cc obat racun rumput FiO Gus Bensol ini. Kalau dirasa kurang hebat ditambah sedikit dosisnya juga bisa sampai sekitar 200 cc (atau satu gelas wadah aqua) dalam tangki sprayer 15 liter (ada juga tangki yang 16 sampai 18 liter).

2. RESEP Oplosan Three in One (OTiO 12) alias Alur 12

Disebut Racun Rumput OTiO 12 alias Alur 12, hanya untuk memudahkan mengingat bahwa inilah cara petani untuk membuat pengenceran racun rumput 1 liter menjadi 12 liter dengan efek racun yang hampir sama. Pengalaman dari seorang Petani di Kampung Sei Jepun bernama Bapak Mustafa (43) ini diperoleh saat dia bekerja di perkebunan Sawit di Malaysia. Resep ini pun sudah diminta ijinnya untuk disebarluaskan kepada para petani dimana saja berada, khususnya yang sempat membaca tulisan ini.
Disebut Alur 12 karena bahannya adalah Air Laut sebanyak 12 liter dan Urea, untuk memperbanyak Racun Rumput buatan pabrik yang akan digunakan.

Bahan-bahan yang diperlukan :
1. Racun Rumput Buatan Pabrik (berbagai merek) 1 liter
2. Air Laut 12 liter
3. Urea 2 kg

Cara membuat :
1. Semua bahan-bahan di campur satu persatu ke dalam wadah terbuat dari Alumunium atau yang berbahan tembikar dari tanah liat dengan sambil terus diaduk-aduk.
2. Bahan-bahan larutan pengenceran racun rumput dengan air laut dan urea dalam wadah kuali itu kemudian dipanaskan di atas kompor atau tungku kayu bakar.
3. Pengadukan dilakukan terus-menerus sampai campuran tadi menjadi larutan yang menyatu sambil terus dipanaskan sampai mendidih. Pengadukan diusahakan jangan tepat di atas wadah agar uapnya tidak terhirup oleh si Pengaduk.
4. Bahan racun rumput OTiO 12 (Oplosan Three in One) siap digunakan. Simpanlah pada wadah yang aman dan tertutup jauhkan dan hindarkan dari jangkauan anak-anak.

Cara Penggunaan :
Cara penggunaan sama dengan penggunaan racun rumput lainnya. Yaitu kalau kita ingin menyemprot dengan pompa sprayer berisi 15 liter air campurkan sekitar 50 cc obat racun rumput OTiO 12 alias Alur 12 ini. Kalau dirasa kurang hebat ditambah sedikit dosisnya juga bisa sampai sekitar 200 cc (atau satu gelas wadah aqua) dalam tangki sprayer 15 liter (ada juga tangki yang 16 sampai 18 liter).

3. RESEP Oplosan Three in One (OTiO 13) alias Hervit Top 13

Disebut Racun Rumput OTiO 13 alias Hervit Top 13, hanya untuk memudahkan mengingat bahwa inilah cara petani untuk membuat pengenceran racun rumput 1 liter menjadi 3 liter dengan efek racun yang hampir sama. Pengalaman dari seorang Petani di Desa Setabu Kecamatan Sebatik Barat melalui seorang PPL bernama Asri Aziz (33) ini diperoleh saat dia bekerja di sawah dan kebun Kakaonya sendiri. Resep ini pun sudah diminta ijinnya untuk disebarluaskan kepada para petani dimana saja berada, khususnya yang sempat membaca tulisan ini.

Disebut Hervit Top 13 karena bahannya adalah Vitsin (Vit) 250 gram dan Toak Pahit (ToP) sebanyak 3 liter, untuk memperbanyak Racun Rumput buatan pabrik sebanyak 1 liter menjadi 3 liter.

Bahan-bahan yang diperlukan :
1. Racun Rumput Buatan Pabrik (berbagai merek) 1 liter
2. Toak Pahit 3 liter
3. Vitsin 250 gram

Cara membuat :
1. Semua bahan-bahan di campur satu persatu ke dalam wadah terbuat dari Plastik atau yang berbahan tembikar dari tanah liat dengan sambil terus diaduk-aduk.
2. Bahan-bahan larutan pengenceran racun rumput dengan Toak Pahit dan Vitsin dalam wadah kuali itu kemudian diaduk-aduk.
3. Pengadukan diusahakan jangan tepat di atas wadah agar uapnya tidak terhirup oleh si Pengaduk.
4. Bahan racun rumput OTiO 13 (Hervit Top 13) siap digunakan. Simpanlah pada wadah yang aman dan tertutup jauhkan dan hindarkan dari jangkauan anak-anak.

Cara Penggunaan :
Cara penggunaan sama dengan penggunaan racun rumput lainnya. Yaitu kalau kita ingin menyemprot dengan pompa sprayer berisi 15 liter air campurkan sekitar 50 cc obat racun rumput OTiO 13 alias Hervit Top 13 ini. Kalau dirasa kurang hebat ditambah sedikit dosisnya juga bisa sampai sekitar 200 cc (atau satu gelas wadah aqua) dalam tangki sprayer 15 liter (ada juga tangki yang 16 sampai 18 liter).

Sumber : http://tanimakmursejahtera.blogspot.com/2010/02/murah-meriah-racun-rumput-buatan.html

Semoga Bermanfaat....!!!

Sabtu, 11 Juni 2011

Kue bisnis yang besar di balik hama


Pada hakikatnya semua makluk hidup yang diciptakan Tuhan Yang Maha Kuasa eksistensinya di dunia ini ada manfaatnya. Tak terkecuali makhluk hidup yang kita sebut sebagai hama. Makhluk hidup ini dari perspektif tertentu dapat menimbulkan masalah dalam kehidupan manusia. Sehingga manusia berusaha untuk memusnahkannya. Bukan memusnahkan dari muka bumi ini, karena itu mustahil, tetapi lebih tepatnya dikendalikan keberadaannya sehingga tidak merugikan secara ekonomi. Dari perspektif lain, dibalik keberadaanya terdapat peluang bisnis yang sangat besar untuk  mengendalikan kerugian yang dapat ditimbulkannya. Memang segala sesuatu, apakah bermanfaat atau tidak tergantung dari perspektif kita dalam memandangnya dan bagaiman kita mengelolanya. Semisal adalah kotoran sapi, dapat dipandang sebagai “kotoran” suatu barang yang menjijikan dan tidak berguna. Tetapi kotoran sapi dapat dipandang sebagai “bahan baku” untuk membuat barang yang berguna, bisa dibuat pupuk atau dijadikan biogas.

Berbagai jenis hama (seperti tikus, nyamuk, kecoa, rayap, lalat dan sebagainya), bisa dijumpai di mana saja. Dalam bisnis pengendalian hama, secara garis besar, hama dikelompokkan ke dalam hama pertanian yang dijumpai di lahan-lahan pertanian dan hama lingkungan yang dijumpai di sebagain besar gedung perumahan, apartemen, perkantoran, ataupun pabrik. Maka ada dua industri yang bergerak di bidang pengendalian hama, yaitu industri agrochemical dan pest control. Agrochemical bergerak di bidang pengendalian hama-hama pertanian dengan memproduksi produk-produk perlindungan tanaman/ pestisida pertanian. Sedangkan pest control bergerak dibidang pengendalian hama-hama lingkungan. Perusahaan pest control umumnya menawarkan pengendalian hama secara holistik, mereka tidak hanya menjual produk pemberantas hama, tetapi menawarkan solusi berupa jasa pengendalian hama kepada konsumennya. Sedangkan perusahaan-perusahaan agrochemical hanya memproduksi produk perlindungan tanaman, tidak menawarkan jasa kepada konsumen, karena biasanya konsumen sendiri yang mengaplikasikan produk tersebut.

Pest Control Service
Secara umum, hama lingkungan dikelompokkan dalam tiga jenis, yaitu: serangga, tikus dan rayap. Di beberapa negara maju seperti Amerika Serikat dan Inggris misalnya, kesadaran membasmi hama sudah muncul sejak puluhan tahun silam. Hal ini dibuktikan dengan munculnya perusahaan pengendalian hama. Terminix misalnya, yang di AS hadir sejak 1927.
Di Indonesia masih sedikit orang yang peduli untuk memerangi pelbagai hama-hama dilingkungan tempat tinggalnya. Ketika menjumpai nyamuk di rumah misalnya, umumnya pemilik rumah hanya membasmi dengan obat antinyamuk cair ataupun bakar, yang sebenarnya hanya bersifat sementara. Epidemi demam berdarah yang kini melanda dan mengancam warga di berbagai wilayah Indonesia, adalah sebuah contoh masih lemahnya pengendalian hama lingkungan.
Gbr.1. Produk Termisida

Di Indonesia, perusahaan yang memberikan jasa pengendalian hama (pest control service) cukup banyak, bahkan mencapai ratusan, mulai dari yang kelas kecil hingga nama-nama besar yang mendunia. Hanya saja, yang mendominasi pasar Indonesia cuma dua nama: Rentokil (Inggris) dan Terminix (AS). Nama lain yang patut diperhitungkan adalah Etos, Proton dan Aardworlf.
Secara umum, bisnis jasa pengendalian hama dikelompokkan menjadi tiga macam. Pertama, general pest control, yang menawarkan jasa mengendalikan berbagai jenis hama: serangga, kecoa, nyamuk, lalat, tikus dan sebagainya. Kedua, termite control, yang khusus mengendalikan rayap (pemainnya, selain beberapa perusahaan di atas, juga Guci Mas). Ketiga, fumigasi, yang menawarkan jasa pengendalian serangga khususnya produk komoditas pertanian dan furnitur yang disimpan di gudang atau disimpan dalam kontainer yang akan diekspor (pemain dominan di bidang ini PT Sucofindo).
 Gbr.2. Pest Control

Pasar bisnis pengendalian hama di Indonesia sangat besar, mengingat pasarnya mencakup segmen perumahan, apartemen, pertokoan, perkantoran dan pergudangan. Apalagi, dengan semakin banyak bermunculan proyek properti yang memang membutuhkan jasa pest control. Tingkat kesadaran orang di Indonesia untuk menggunakan jasa ini juga masih relatif rendah, kecuali  kelompok ekonomi menengah-atas.  
Namun walaupun peluang bisnisnya besar, bisnis ini tidak lepas dari kendala yang menghadangnya. Hal yang tidak mudah untuk memasarkan jasa ini, karena tingkat kesadaran masyarakat yang masih rendah. Karena itu, untuk memasarkan jasa ini, perusahaan harus mampu mengedukasi ke calon konsumen potensial. Dan juga karena terkait dengan bahan-bahan beracun, tenaga yang menangani harus yang profesional di bidang ini. 

Agrochemical Industry

Sepuluh perusahaan Agrochemical teratas di dunia dan persentase pangsa pasarnya:
No
Company
State
Sales Value (US$ millions)
Market Share (%)
1
Bayer
Germany
7,45
19
2
Syngenta
Switzerland
7,285
19
3
BASF
Germany
4,297
11
4
Dow AgroSciences
USA
3,779
10
5
Monsanto
USA
3,599
9
6
DuPont
USA
2,369
6
7
Makhteshim Agan
Israel
1,895
5
8
Nufarm
Australia
1,470
4
9
Sumitomo Chemical
Japan
1,209
3
10
Arysta Lifescience
Japan
1,035
3

Total

34,396
89
Source: Agrow World Crop Protection News, August 2008

Kesepuluh perusahaan tersebut menguasai 89% dari pasar global produk agrochemical. Pasar untuk produk agrochemicals secara global adalah US$38.6 billion pada Tahun 2007 – mengalami kenaikan sebesar 8.4% dari tahun sebelumnya.  Karena didukung oleh Riset&Development yang kuat, perusahaan-perusahaan inilah yang biasanya menemukan bahan aktif pestisida yang baru untuk kemudian dipatenkan.  
  Gbr.3. Bermacam-macam jenis produk Agrochemicals
Pada zaman sekarang, produsen pestisida tidak hanya dari negara-negara maju. Negara lain, seperti India dan China pun sudah menguasai produksi bahan aktif pestisida, terutama bahan aktif yang generik. Perusahaan formulator pestisida di Indonesia banyak yang mengimpor bahan aktif pestisida dari dua negara tersebut, karena pertimbangan harga yang lebih kompetitif.
Di Indonesia potensi ekonomi dari bisnis pestisida terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini terlihat data dua tahun terakhir jumlah pestisida yang terdaftar mengalami peningkatan yang sangat signifikan yakni dari 600 jenis merek dagang menjadi 1.200 merek dagang. Sekarang lebih terbuka dan lebih mudah dalam pendaftaran pestisida karena guna memberi kesempatan kepada perusahaan nasional untuk mendaftarkan produknya. Potensi ekonominya diperkirakan bisa mencapai Rp4,5 triliun per tahun.
Dengan melihat potensi bisnisnya yang besar, sekarang banyak bermunculan perusahaan agrochemicals untuk merebutkan kue bisnis di industri ini. Walaupun industri ini mendapatkan kecaman dari pihak-pihak lain terutama dari aktivis LSM bidang lingkungan karena pengguanaan pestisida yang dapat merusak lingkungan dan kesehatan masyarakat. Persaingan ketatpun tidak dapat dihindari, maka perusahaan-perusahaan tersebut melakukan berbagai macam strategi  marketing, salah satunya dengan menawarkan hadiah atau bonus kepada distributro dan konsumennya.
Setiap jenis pestisida yang akan diedarkan di tanah air harus melalui pendaftaran ke Komisi Pestisida (Kompes). Namun, banyak pestisida dari luar negeri yang masuk ke Indonesia dan beredar di pasaran tanpa melalui pendaftaran di Kompes terlebih dahulu. Asosiasi Perusahaan Pestisida Multinasional, Croplife Indonesia memperkirakan peredaran pestisida ilegal di Indonesia nilainya lebih dari Rp2,8 miliar per tahun. Peredaran pestisida ilegal tersebut banyak dijumpai pada sektor perkebunan, khususya kelapa sawit baik milik BUMN maupun swasta yang umumnya memiliki lahan luas dan konsumsi pembasmi hamanya tinggi. Dari jenis pestisida ilegal yang beredar di perkebunan tersebut, terbanyak yakni insektisida yakni 50 %, herbisida 40 % dan 10 % sisanya fungisida.
Selain beredarnya pestisida ilegal (tanpa registrasi ke KomPes dan biasanya harganya lebih murah), banyak juga ditemukan beredarnya pestisida palsu. Pestisida palsu tidak mengandung bahan aktif pestisida sehingga tidak mempunyai efek pestisida sama sekali, tetapi dilihat kemasannya mirip dengan produk pestisida yang sudah dikenal luas oleh kalangan petani. Peredaran pestisida yang palsu tentu sangat merugikan semua pihak terutama para petani.
 
Gbr.4. Aplikasi penyemprotan pestisida pertanian

Bagaimana Pendapat Anda...???
Semoga Bermanfaat....!!!!