Jumat, 10 Juni 2011

Bahan-bahan untuk Membuat Pestisida


Daun Sirsak : Bahan untuk membuat pestisida botani.

1
Tumbuhan
Banyak tumbuhan yang mengandung senyawa beracun bagi hama dan patogen (penyebab penyakit tanaman). Ekstrak dari tumbuhan ini bisa dimanfaatkan sebagai insektisida ataupun sebagai fungisida. Pestisida yang berasal dari tumbuhan sering disebut pestisida botani atau pestisida nabati. Pestisida jenis ini ada yang mampu “membunuh” target, ada yang hanya bersifat sebagai repelen (pengusir) atau penarik (atraktan) hama. Secara umum, pestisida jenis ini berfungsi untuk melindungi tanaman dari gangguan serangan hama dan patogen, sehingga tumbuhan yang dibudidayakan dapat berproduksi optimal.

Mikro-organisme
Mikro-organisme seperti jamur, bakteri, dan virus mampu “menyakiti” dan “membunuh”   hama dan patogen penyebab penyakit  tanaman. Karena menggunakan “jasa” makhluk hidup/agen hayati untuk mengatasi hama dan penyakit tanaman, maka pestisida yang dibuat dari mikro-organisme semacam ini disebut dengan pestisida biologi (bio-pestisida) atau secara spesifik disebut bio-insektisida, bio-fungisida, bio-herbisida.
Hasil fermentasi

Proses fermentasi yang berlangsung dengan bantuan mikro-organisme menghasilkan senyawa kimia yang berguna bagi manusia. Senyawa-senyawa kimia yang dihasilkan ada yang dapat digunakan dalam bidang farmasi, ada juga yang dapat digunakan untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman/OPT.
Trichoderma sp. : Jamur untuk bahan pembuat pestisida hayati
Senyawa kimia sintetik
Pestisida yang bahan aktifnya dibuat dari senyawa kimia sintetik disebut dengan pestisida kimia sintetik atau sering hanya disebut pestisida kimia. Pestisida ini dibuat di laboratorium secara kimiawi dan diproduksi secara massal di pabrik. Senyawa kimia sintetik dibagi dalam beberapa kelompok, yaitu :
a.       Senyawa Anorganik. Senyawa anorganik tidak mengandung unsur karbon dalam struktur molekulnya. Contohnya fosfin (PH3) sebagai insektisida; belerang, tembaga, arsen sebagai fungisida, aluminium fosfida sebagai fumigan.
b.      Senyawa Organik. Senyawa organik mengandung unsur karbon dalam struktur molekulnya. Senyawa organik dapat dikelompokkan lagi menjadi kelompok organofosfat, karbamat, hidrokarbon berklor, urea, dan tiourea sebagai insektisida; tiokarbamat, imidazol, triazol, piridin, pirimidin, dan fenilamid sebagai fungisida; urasil, triazin dan fenoksi sebagai herbisida.
c.        Senyawa Organik degan struktur meniru senyawa alami. Senyawa ini disintesis dengan meniru struktur kimia senyawa yang ada di alam dengan beberapa perubahan untuk meningkatkan efikasinya. Contohnya insektisida kelompok piretroid (meniru peritrin), nikotinoid (meniru nikotin), dan rotenoid (meniru rotenon).
Struktur Kimia sipermetrin (Kelompok Piretroid) Rumus Kimia: C22H19Cl2NO3
d.      Senyawa kimia dengan struktur seperti Feromon Serangga. Feromon merupakan sejenis hormon yang dikeluarkan oleh serangga dan berfungsi sebagai alat komunikasi dengan sesamanya. Ada beberapa jenis feromon, yaitu feromon jejak, feromon tanda bahaya, feromon seks. Feromon jejak merupakan hormon yang  dikeluarkan oleh semut dan rayap untuk menandai jalur yang telah dilewatinya. Feromon seks dikeluarkan serangga untuk menarik lawan jenisnya. Feromon tiruan yang banyak digunakan adalah metil eguanol, yaitu senyawa tiruan feromon seks yang dikeluarkan lalat buah betina.
e.      Senyawa kimia dengan struktur seperti hormon tumbuhan
Beberapa hormon tumbuhan bisa dibuat  tiruannya di laboratorium, dimana senyawa ini diperdagangkan sebagai zat pengatur tumbuh (ZPT), seperti IAA (indol asam asetat) dan IBA (indol asam butirat).
Bagaimana Pendapat Anda....????
Semoga Bermanfaat...!!!

Kamis, 09 Juni 2011

Merk dagang & Nama Kimia Produk Pestisida


Merk dagang
Dalam perdagangan, pestisida di beri cap, nama dangang atau merk dagang oleh formulator atau produsennya. Dursban adalah salah satu contohnya, merk dagang produk pestisida yang sudah dikenal luas oleh petani di Indonesia.
  Merk dagang pestisida yang terkenal
 


Secara komposisi, setiap formulasi pestisida pertanian/produk perlindungan tanaman yang diperdagangkan terdiri atas tiga bagian utama, yaitu: bahan aktif (active  ingredient), bahan-bahan pembantu (adjuvant), dan bahan pembawa (carrier). Bahan aktif adalah senyawa kimia atau bahan bioaktif lain yang memiliki efek pestisida. Sedangakan bahan pembantu dan bahan pembawa ditambahkan dalam formulasi agar bahan aktif tersebut bisa digunakan dengan mudah.  Satu jenis bahan aktif dapat dijual dengan merk dagang yang bermacam-macam tergantung dari formulatornya. 
Sebagai contoh, herbisida berbahan aktif 2,4-D pada tahun 2006 di Indonesia telah terdaftar lebih dari 80 merk dagang (baik tunggal maupun dicampur dengan bahan aktif lainnya). Insektisida dengan bahan aktif sipermetrin ada 60 merk dagang pada tahun 2006. Jumlah terbanyak merk dagang dipegang oleh herbisida dengan bahan aktif glifosat, pada tahun yang sama terdaftar lebih dari 130 merk dagang (dalam berbagai bentuk baik tunggal maupun campuran).  
Lihat Buku :PESTISIDA TERDAFTAR (PERTANIAN DAN KEHUTANAN), PUSAT PERIZINAN DAN INVESTASI, yang diterbitkan secara berkala oleh SEKERTARIAT JENDERAL DEPARTEMEN PERTANIAN.


Hal ini penting diketahui para petani sebagai pengguna produk-produk pestisida. Dengan mengetahui kandungan bahan aktifnya, petani tidak perlu terikat  pada suatu merk dagang tertentu, dan dapat  menghindari penggunaan dua produk dengan bahan aktif yang sama pada saat yang sama. Namun harus diperhatikan pula bahwa walaupun bahan aktifnya sama, belum tentu kualitasnya sama pula. Beda merk dagang, beda pembuatnya tentu akan menghasilkan kualiatas produk yang  tidak persis sama. Faktor-faktor yang mempengaruhinya adalah mutu bahan aktifnya (kemurnian), adanya impurities (senyawa ikutan yang diperoleh selama proses produksi), dan perbedaan formulasinya (jenis bahan pembantu dan bahan pembawa). 
Sebelum diedarkan dipasaran, oleh formulatornya produk pestisida di daftarkan dulu di Komisi Pestisida untuk mendapatkan izin. Dalam kemasan produknya ada beberapa hal yang perlu dicantumkan, yaitu logo dan nama perusahaan pemegang pendaftaran beserta alamatnya, merk dagang beserta dosis bahan aktifnya dan bentuk formulasinya, keterangan singkat cara kerja produk tersebut, No. Pendaftaran, No. Kode dan tanggal produksi, kode halogram (menunjukan tingkat toksisitas), petunjuk penggunaan, peringatan bahaya. Satu jenis bahan aktif kadang kala didaftarkan untuk penggunaan dengan hama sasaran yang berbeda tergantung oleh formulatornya. Contoh kasusnya adalah merk dagang LEMAN 100 EC dan RIZOTIN 100EC. Kedua produk tersebut berbahan aktif sama yaitu sipermetrin 100 g/L, tetapi LEMAN terdaftar sebagai termisida (pengawet kayu untuk mengendalikan rayap), sedangkan Rizotin terdaftar sebagai insektisida untuk mengendalikan hama perusak daun pada tanaman kubis.
Umumnya perusahaan formulator yang mendaftarkan suatu produk yang akan dipasarkan tidak memproduksi bahan aktif sendiri. Mereka bekerja sama dengan perusahaan lain yang memproduksi bahan aktif untuk pestisida. Jadi ada perusahaan yang khusus bergerak dalam bidang pembuatan bahan aktif saja, tetapi ada pula suatu perusahaan formulator yang juga mempunyai fasilitas produksi bahan aktifnya.   

Nama Kimia
Bahan aktif pestisida berupa senyawa kimia yang diberi nama kimia yang didasarkan pada struktur atau rumus kimia dari senyawa tersebut. Seringkali nama kimia terlalu panjang dan membingungkan, sehingga ada nama umum untuk nama kimia yang dimaksud. Nama umum atau nama generik lebih singkat sehingga mudah diingat dan lebih mudah dimengerti. 
Nama kimia harus diakui oleh lembaga internasional yang berwenang, seperti IUPAC (International Union of Pure and Applied Chemistry) dan CA (Chemical Abstracts). Nama kimia dari bahan aktif yang sama bisa berbeda, tergantung pada lembaga yang mengesahkannya.
Kalau nama umum diusulkan oleh penemunya dan diakui oleh salah satu lembaga internasional yang berwenang seperti ANSI  (American National Standart Institute), ISO (International Standaritation Organization), BCPC (British Crop Protection Council), BSI (British Standart Intitute), JMAF (Japanese Ministry for Agriculture, Forestry and Fishery), WSSA (Weed Science Society of America) dan IUPAC. Jadi nama umum suatu bahan aktif bisa berbeda tergantung pada badan otoritas yang memberi pengakuan nama tersebut.  Contoh kasusnya adalah insektisida dengannama umum endosulfan di Iran dan Uni Sovyet  dikenal dengan nama Tiodan  (pengakuan dari BSO, E-ISO, F-ISO, ANSI, ESA), sedangkan JMAF menyebutnya benzoepin. Insektisida builfenil metilkarbamat  yang di Indonesia disebut BPMC (mengikuti JMAF), menurut BSI nama umumnya adalah fenobukarb.
Sementara itu, jika bahan aktif pestisida merupakan mikro-organisme, nama umumnya diambil dari nama spesies jasad renik beserta strain-nya (jika ada). Dan jika bahan aktifnya berupa hasil fermentasi dari suatu mikro-organisme, maka nama umumnya juga diambil dari nama spesies jasad renik tersebut, contohnya TRACER 120 SC bahan aktifnya spinosad, dimana nama tersebut diambil dari nama mikro-organisme Saccaropolyspora spinosae.




 Bagaimana Pendapat Anda..???
Semoga Bermanfaat....!!!

Klasifikasi Herbisida


Ada lima cara pengelompokan herbisida yang banyak diterapkan dalam praktek budidaya tanaman, yaitu :

A.      Klasifikasi berdasarkan pada derajat respon tumbuhan terhadap aplikasi herbisida (Selektivitas)
1.       Herbisida selektif, adalah herbisida yang  beracun untuk tumbuhan tertentu daripada tumbuhan lainnya. Secara ideal, herbisida selektif adalah herbisida yang mempu mengendalikan gulma sasaran tanpa meracuni tanaman utama.Contoh herbisida selektif adalah 2,4-D; ametrin; diuron; oksifluorfen; klomazon; dan karfentrazon.
2.       Herbisida non-selektif, adalah herbisida yang beracun bagi semua spesies tumbuhan yang ada.  Oleh karena itu, herbisida jenis ini diaplikasikan pada saat  tidak ada tanaman utama yang sengaja dibudidayakan. Herbisida yang masuk dalam golongan ini antara lain glifosat, sulfosat dan paraquat.
Herbisida yang  selektif terhadap suatu tanaman belum tentu selektif terhadap tanaman lainnya. Contohnya herbisida berbahan aktif atrazin dan ametrin sangat selektif bagi tanaman jagung, tebu, dan nanas, tapi tidak selektif terhadap padi. Di sisi lain, propanil, triasulforan, dan metsulfuron metil sangat selektif terhadap padi, tetapi belum tentu selektif terhadap tanaman lainnya.
Selektivitas herbisida dipengaruhi oleh dua hal, yaitu :
1.       Faktor tanaman yang berhubungan dengan herbisida, terdiri dari selektivitas fisiologis dan selektivitas fisik.
2.       Faktor teknik penggunaan, terdiri dari selektivitas posisional dan selektivitas teknik penyemprotan.
Selektivitas fisiologis dapat dikatakan selektivitas bawaan bahan aktif herbisida tersebut dalam “memilih” tumbuhan sasarannya yang akan “dibunuh”.  Suatu tanaman dapat mengubah bahan aktif herbisida(dalam takaran tertentu) menjadi bahan yang tidak meracuni tanaman tersebut. Contoh kasusnya adalah atrazin pada tanaman jagung, dimana tanaman ini mampu mendetoksifikasi atrazin sehingga tidak beracun bagi jagung.
Selektivitas fisik terjadi karena adanya zat penghalang atau lapisan tertentu pada tanaman yang mampu menahan herbisida sehingga tidak bisa mencapai bagian tanaman yang peka. Contoh kasusnya adalah lapisan kayu pada pohon dewasa, sehingga herbisida yang non-selektif sekali pun dapat digunakan untuk mengendalikan gulma pada tanaman perkebunan yang sudah berkayu.
Selektivitas posisional memanfaatkan perbedaan posisi dari bagian-bagian tanaman dan gulma yang peka terhadap herbisida. Contoh kasusnya adalah herbisida pra-tumbuh yang aktif di dalam tanah (soil acting) sesudah diaplikasikan pada tanah, akan segera membentuk semacam lapisan herbisida dengan kedalaman tertentu di lapisan tanah bagian atas. Biji-biji gulma yang kebanyakan berada di lapisan ini akan terpapar oleh herbisida dan tidak akan berkecambah. Jika berkecambah pun, kecambah akan segera mati. Sementara benih tanaman utama yang ditanam lebih dalam tidak terpapar herbisida dan akan tetap tumbuh.

Selektivitas teknik penyemprotan, berdasarkan pada tata cara aplikasi yang tepat, sehingga herbisida yang non-selektif pun  bisa dimanfaatkan untuk mengendalikan gulma pada beberapa jenis tanaman. Contoh kasusnya adalah penggunaan herbisida non-selektif (yang bukan sistemik) bisa digunakan untuk mengendalikan gulma diantara barisan beberapa jenis tanaman dengan teknik directed spray menggunakan sungkup atau corong. 
Contoh produk herbisida glifosat.
B.      Klasifikasi herbisida berdasarkan tipe translokasinya dalam tumbuhan
1.       Herbisida non-sistemik/ tidak ditranslokasikan, yaitu herbisida yang mematikan gulma karena gulma tersebut  terkena langsung oleh herbisida tersebut. Maka, herbisida ini hanya mampu mematikan bagian gulma yang berada di atas tanah. Contohnya adalah paraquat, diquat dan propanil. Semakin banyak bagian gulma yang terkena langsung berarti akan semakin baik daya kerja herbisida tersebut. Oleh karena itu, herbisida jenis ini diaplikasikan dengan volume semprot yang tinggi (600 – 800 Liter/Ha). Daya kerjanya kurang baik jika diaplikasikan pada gulma yang memiliki organ perkembangbiakan dalam tanah (seperti teki) atau mata tunasnya pada ruas rerumputan yang tertutup oleh pelepah daun. Sedangkan kelebihannya daya kerjanya cepat terlihat.
2.       Herbisida sistemik  yaitu herbisida yang bisa masuk ke dalam jaringan gulma dan ditranslokasikan ke bagian gulma lainnya. Karena sifatnya yang sistemik, herbisida ini mampu mematikan jaringan gulma yang berada di dalam tanah (akar, rimpang, umbi), namun daya kerjanya lebih lambat terlihat. Contohnya adalah 2,4-D; glifosat dan glufosinat.
Beberapa faktor yang mempengaruhi efektivitas herbisida sistemik, yaitu:
-Gulma harus dalam masa pertumbuhan aktif
-Cuaca cerah waktu aplikasi
-Tidak melakukan aplikasi menjelang hujan
- Areal yang akan disemprot dalam kondisi kering
- Menggunakan air bersih sebagai bahan pelarut.

C.      Klasifikasi berdasarkan pada waktu aplikasi herbisida
1.       Herbisida pra-tumbuh, diaplikasikan pada tanah sebelum gulma tumbuh, dimana kondisi tanaman utama yang dibudidayakan belum ditanam, sudah ditanam, belum tumbuh atau sudah tumbuh. Herbisida yang diaplikasikan akan membentuk lapisan tipis pada permukaan tanah. Akar atau tajuk gulma yang mulai berkecambah akan terkena dan menyerap herbisida tersebut pada saat menembus lapisan herbisida dan kemudian akan teracuni. Kelembaban tanah akan membantu herbisida mencapai biji gulma yang berkecambah di bawah permukaan tanah. Oleh karena itu, aplikasi herbisida pra-tumbuh pada kondisi tanah kering tidak dianjurkan. Contoh produk herbisida pra-tumbuh berbahan aktif oksifluorfen.

Semua herbisida pra-tumbuh adalah herbisida yang aktif di dalam tanah (soil acting) dan bersifat sistemik. Contoh penggunaan herbisida pratumbuh adalah ametrin;  diuron; 2,4-D;  dan metribuzin pada budidaya tanaman tebu dan ubi kayu. Oksadiazon, klomazon, metil metsulforan, oksifluorfen, dan propanil adalah contoh herbisida pratumbuh pada budidaya  tanaman padi; atrazin, metribuzin dan ametrin pada budidaya tanaman jagung.
2.       Herbisida pasca-tumbuh, diaplikasikan setelah gulma tumbuh. Dengan demikian, semua herbisida pasca-tumbuh adalah termasuk foliage applied herbicides.

Beberapa herbisida pasca-tumbuh digunakan untuk persiapan lahan sebelum tanam sebagai pengganti oleh tanam sempurna. Gulma yang  sudah tumbuh disemprot dengan herbisida dan ditunggu beberapa saat. Setelah gulma mati, kemudian dilakukan penanaman. Contoh herbisida yang digunakan adalah glifosat, sulfosat dan paraquat.
Penggunaan herbisida pasca-tumbuh lainnya adalah untuk mengendalikan gulma selama tanaman pokok yang dibudidayakan sedang tumbuh. Pemilihan jenis herbisida harus yang selektif bagi tanaman pokok atau diatur teknik penyemprotannya jika herbisida tersebut dapat meracuni tanaman pokoknya. Herbisida pasca-tumbuh yang dapat digunakan untuk pengendalian gulma pada tanaman pokok yang sudah tumbuh adalah glufosinat, glifosat, dan paraquat  pada perkebunan karet, kopi, kakao, dan kelapa sawit; 2,4-D pada budidaya padi; paraquat pada pertanaman jagung. Contoh produk herbisida pasca-tumbuh berbahan aktif penoksulam yang bersifat selektif terhadap tanaman padi (sangat aman/tidak meracuni tanaman pokok).
D.      Klasifikasi berdasarkan bidang sasaran aplikasi herbisida
1.       Foliage applied herbicides, adalah herbisida yang diaplikasikan langsung pada daun-daun gulma yang sudah tumbuh.  Herbisida yang termasuk dalam kelompok ini termasuk juga dalam kelompok herbisida pasca-tumbuh.
2.       Soil applied herbicides, adalah herbisida yang diaplikasikan dengan cara penyemprotan pada permukaan tanah atau dicampur /diaduk dengan tanah, dan umumnya diaplikasikan sebelum gulma tumbuh (herbisida pra-tumbuh).  Herbisida ini bekerja dengan cara menghambat perkecambahan gulma atau membunuh biji-biji gulma yang masih berada di dalam tanah.
E.       Klasifikasi berdasarkan golongan bahan aktif herbisida
1.       Senyawa anorganik. Beberapa senyawa anorganik sejak tahun 1900-an telah digunakan sebagai herbisida sebelum era herbisida modern, beberapa diantaranya adalah: Asam sulfat, Besi sulfat, Natrium klorat.
2.       Senyawa organik. Hampir semua jenis herbisida yang beredar dipasaran saat ini adalah herbisida yang termasuk dalam golongan senyawa organik.
3.       Bioherbisida.Beberapa mikro-organisme telah berhasil dikembangkan sebagai herbisida komersial. Pada dasarnya, mikro-organisme tersebut  (terutama jamur) merupakan penyebab penyakit yang sangat spesifik bagi tanaman tertentu.
Bagaimana Pendapat Anda...??
Semoga Bermanfaat...!!!

Rabu, 08 Juni 2011

Herbisida: Golongan Pestisida untuk mengendalikan Gulma


Dalam klasifikasi pestisida, Herbisida merupakan salah satu jenis produk pestisida yang berfungsi untuk mengendalikan gulma. Pengertian gulma dapat didefinisikan sebagai semua jenis tumbuhan yang dianggap mengganggu atau  merugikan kepentingan manusia sehingga manusia berusaha untuk mengendalikannya. Kepentingan manusia ini sangat beragam, bisa ditinjau baik dari segi ekonomi, estetika, kesehatan, maupun lingkungan. Dengan demikian ,masalah gulma tidak hanya ditemui pada usaha budidaya tanaman, tetapi juga pada aspek kehidupan lainnya seperti pemukiman, kebersihan jalan raya, tempat-tempat  olahraga, dan lain-lain.
 Gulma di areal persawahan
Herbisida adalah bahan kimia atau kultur hayati yang dapat menghambat  pertumbuhan atau mematikan tumbuhan. Herbisida dapat mempengaruhi satu atau lebih proses-proses yang  dilakukan oleh tumbuhan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya seperti pembelahan sel, perkembangan jaringan, fotosintesis, respirasi dan sebagainya. Bahan baku herbisida dapat berasal dari senyawa kimia baik organik maupun anorganik atau berasal dari metabolit, hasil ekstraksi, atau bagian dari suatu organisme.
Dalam sejarah, bahan kimia anorganik pertama yang digunakan sebagai herbisida adalah garam tembaga, yang digunakan untuk mengendalikan gulma berdaun lebar. Besi sulfat digunakan sebagai herbisida sejak tahun 1901, yang dapat memberantas gulma berdaun lebar, tetapi tidak mematikan tanaman biji-bijian dari famili Gramineae. Beberapa senyawa kimia anorganik lainnya yang sejak dulu digunakan adalah garam dapur, sodium nitrat, amonium sulfat, sulfat tembaga dan asam sulfat. Namun, semua bahan kimia tersebut tidak hanya mematikan gulma, tetapi juga mematikan tanaman utamanya yang dibudidayakan.
Sejarah herbisida modern dimulai dengan diketemukannya senyawa 2,4 –diklorofenoksi asam asetat (lebih dikenal dengan nama 2,4-D). Penggunaan 2,4-D sebagai herbisida pertama kali dilaporkan oleh Marth dan Mitchell pada tahun 1944 untuk mengendalikan gulma di lapangan rumput. Dalam takaran yang sangat rendah, senyawa ini berfungsi sebagai hormon untuk merangsang pertumbuhan tanaman. Dalam takaran yang lebih tinggi, senyawa ini mampu membunuh beberapa jenis gulma dari golongan tumbuhan berdaun lebar. herbisida ini tidak merugikan tumbuhan dari famili Gramineae sehingga bersifat selektif terhadap tanaman pokok yang berasal dari famili Gramineae.
Karena herbisida tersebut  bersifat efektif dan praktis, selektif serta sistemik, maka dengan cepat petani menerimanya sebagai sarana pengendali gulma. Pada masa itu, industriawan tertarik untuk mengembangkannya menjadi produk massal karena melihat efektivitas dan potensi ekonomi penggunaan herbisida tersebut. Para ilmuwan juga mulai aktif melakukan penelitian-penelitian pengembahan senyawa-senyawa baru untuk dijadikan herbisida untuk mengendalikan gulma secara kimiawi. Hingga sekarang beraneka macam produk herbisida beredar dipasaran,  dan tahun 1940 dinyatakan sebagai tonggak perkembangan herbisida modern pada saat ditemukanannya senyawa 2,4-D.
Salah satu merk dagang herbisida berbahan aktif 2,4-D.
Bagaimana Pendapat Anda...???
Semoga Bermanfaat...!!!!


Bahan Perata, Perekat dan Pengemulsi Larutan Semprot



Sudah menjadi kebiasaan petani dalam satu kali aplikasi penyemprotan untuk mengendalikan hama-penyakit  tanaman, digunakan beberapa jenis pestisida. Pestisida jenis insektisida, fungisida ditambah dengan pupuk cair dicampura jadi satu dalam tangi sprayer. Suatu produk  yang tidak pernah ketinggalan oleh petani setiap kali melakukan penyemprotan adalah produk perekat (Sticker). Produk ini bukan merupakan jenis pestisida yang dimaksudkan untuk mengendalikan hama atau penyakit tertentu pada tanaman, tapi keberadaan produk ini selalu  menyertai dalam setiap aplikasi penyemprotan.
Banyak sekali merk produk-produk semacam ini yang  beredar di pasaran. Hampir semua perusahaan produsen pestisida mempunyai item produk jenis ini. Produk-produk semacam ini  berfungsi untuk  merekatkan larutan semprot pestisida pada permukaan daun atau bagian tanaman. Sticker bekerja dengan cara meningkatkan adesi partikel ke bidang sasaran, sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya butiran semprot pestisida luruh  (roll off) atau tercuci akibat guyuran air hujan. Beberapa diantara produk-produk ini juga berfungsi mengurangi penguapan. Kebanyakan produk perekat yang dijual dipasaran juga merupakan bahan perata  (surfaktan).
Surfaktan membantu membasahi bidang sasaran semprot dengan cara menurunkan tegangan permukaannya. Dengan demikian, butiran semprot akan lebih mudah menempel pada bidang sasaran. Penggunaan surfaktan dapat mencegah butiran semprot luruh dari bidang sasaran, terutama untuk tanaman yang daunnya  berlilin atau berbulu-bulu halus. Namun penggunaan surfaktan yang berlebihan justru akan meningkatkan aliran (run off) yang mengakibatkan efikasi pestisida menjadi berkurang.
Beberapa jenis bahan aktif yang digunakan dalam produk-produk ini adalah poli oksi etilen alkil eter, alkil gleserol flalat, poli etil akrilat, alkilaril poli etoksi alkolhol, alkilaril poliglikol eter, asam oleat, alkilaril alkoksilat. Dalam perdagangan, produk-produk ini bisa merupakan campuran dari dua atau lebih bahan aktif.
Salah satu contoh merk produk ini adalah Latron 750 SL. Latron berbahan aktif alkil gleserol flalat, yang mempunyai tiga fungsi sebagai bahan perata, perekat dan juga pengemulsi. Bahan pengemulsi (emulsifier) adalah bahan yang digunakan untuk membantu pembentukan emulsi. Jika minyak dicampur ke dalam air, minyak dan air akan terpisah. Jika kedalam campuran tersebut ditambahkan emulsifier dan kemudian diaduk, campuran minyak dan air tersebut akan membentuk emulsi. Latron bekerja dengan cara menurunkan tegangan permukaan pestisida sehingga larutan pestisida mudah menyebar secara merata. Pestisida tetap terikat di permukaan daun sehingga tanaman tetap terlindungi sekalipun dalam cuaca yang buruk atau angin kencang.
Beberapa kombinasi pestisida atau pupuk cair di dalam tangki, tidak tercampur dengan baik (seperti halnya minyak dan air). Campuran dapat memisah, satu jenis atau lebih bahan yang terkandung  didalamnya dapat menggumpal atau menjadi sepeti “gemuk” (greasy), sehingga dapat menyumbat nozzle atau saringan. Hal ini mengakibatkan proses penyemprotan terganggu. Akibat buruk dari kombinasi pestisida atau pupuk yang tidak sempurna yaitu adanya konsentrasi bahan kimia di suatu area sehingga hasil panen menjadi tidak merata pada area pertanaman karena pengendalian hama, penyakit atau gulma tidak merata. Untuk mengatasi hal tersebut, Latron dapat digunakana untuk membantu mengatasi masalah tersebut. 

Bagaimana pendapat Anda....????
Semoga Bermanfaat......!!!!