Indonesia adalah negara agraris (sebuah kenyataan atau pertanyaan)

Mayoritas penduduk Indonesia bermatapencaharian di bidang pertanian, itu lah faktanya. Kalau hal tersebut dijadikan parameternya, maka Indonesia adalah negara agraris. Pernyataan itu benar adanya. Namun, sebagai negara agraris diharapkan kebutuhan pangan untuk warganegaranya dapat dicukupi dari produksi dalam negeri. Kenyataanya, Indonesia masih mengimpor pangan dari luar negeri, tidak hanya beras sebagai makanan pokok, tetapi bahan pangan lainnya seperti gandum, kedelai, dan jagung. Masih banyak Petani yang hidup dalam kemiskinan dan masih ada penduduk di pedesaan, yang menjadi sentra produksi pangan, mengalami kelaparan. Jadi pernyataan bahwa negara Indonesia adalah negara agraris patut jadi pertanyaan. Tetapi, semoga suatu saat nanti Negara Indonesia menjadi kenyataan sebagai Negara Agraris. Mari Kita memberikan sumbangsih bagi Kemajuan Dunia Pertanian Indonesia sesuai kemampuan Kita masing-masing. Apa sumbangsih Anda..........????????

Senin, 14 Maret 2011

Tanam Benih Padi secara Langsung (TaBeLa)


Usaha budidaya padi konvensional banyak menyerap tenaga kerja mulai dari kegiatan pengolahan tanah, penanaman dan pemanenan. Sementara ketersediaan tenaga kerja atau buruh tani mulai berkurang karena banyak generasi muda enggan untuk terjun ke pertanian. Selama ini tenaga kerja khususnya yang berperan dalam kegiatan tanam dilakukan oleh kaum perempuan yang sudah tua. Di masa mendatang diperkirakan akan semakin sulit mencari tenaga kerja untuk tanam padi. Dan biasanya masa tanam yang serempak sehingga pada masa itu terjadi peningkatan permintaan tenaga kerja, dilain pihak ketersediaanya terbatas. Oleh karena itu, sangat perlu dicari cara lain dalam usaha budidaya padi yang dapat menghemat penggunaan tenaga kerja.

                 Tabela merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan. Tabela adalah singkatan dari Tanam benih padi secara langsung, dimana benih padi langsung disebar di lahan budidaya tanpa melalui proses penyemaian terlebih dahulu. Cara ini berbeda denga budidaya padi sistem pindah tanam atau transplanting, dalam hal pembibitannya. Kegiatan lainnya relatif sama. Dalam sistem pindah tanam, benih padi disemaikan terlebih dahulu di lahan yang terpisah dengan  lahan budidaya. Dengan demikian, dibutuhkan tenaga untuk persiapan lahan semai, penyebaran benih, pencabutan bibit yang sudah siap tanam (dalam Bahasa Jawa: ngarit), dan tenaga tanam. Ditambah lagi tenaga transportasi untuk memindah bibit dari lokasi penyemaian menuju ke lokasi budidaya, karena seringkali lahannya berjauhan. Dalam tabela tenaga untuk melakukan kegiatan-kegiatan tersebut tidak ada. Jadi dengan tabela dapat mengurangi penggunaan tenaga kerja yang tentunya dapat mengurangi biaya produksi jika menggunakan tenaga kerja upahan atau buruh tani.
                Sistem tabela telah lama dikenal masyarakat Indonesia sebagai suatu sistem tradisional budidaya padi gogo atau gogo rancah yang dilakukan di tanah kering yang telah diolah. Sedangkan tabela dilakukan pada sawah berlumpur yang telah diolah secara sempurna. Sistem tabela telah umum digunakan di luar negeri di daerah dengan irigasi terjamin.
                Namun, dalam penerapannya sistem tabela tidak terlepas dari kendala-kendala yang dihadapi, yaitu:
1.       1. Budidaya tabela hanya sesuai untuk lahan sawah yang rata dan telah diolah sempurna. Benih tidak akan tumbuh bila jatuh pada tanah yang tergenang air.
2.       2. Tabela sesuai untuk sawah beririgasi teknis yang mudah diatur pengairannya. Tabela kurang sesuai dilakukan pada musim penghujan. Saat curah hujan yang tinggi, apalagi pada saat baru sebar benih, benih dapat terhanyut.
3.       3. Benih yang baru disebar relatif lebih mudah diserang hama burung atau tikus.
4.       4. Gulma dapat tumbuh lebih pesat dibanding benih padi yang ditanam, sehingga membutukan usaha penggendalian gulma yang lebih intensif.
5.       5. Usaha kegiatan penyulaman juga lebih intensif, akibat kerusakan benih karena serangan hama atau supaya tata-letak tanam lebih rapi.

Jadi sistem tabela sangat cocok diterapkan pada lahan yang beririgasi baik, tidak mudah kebanjiran, dan pengolahan tanahnya harus sempurna, dimana kondisi tanah benar-benar gembur dan rata. Jika dapat diterapkan, akan mendapatkan keuntungan lain selain dapat menghemat tenaga kerja, yaitu umur tanaman padi tabela lebih cepat sekitar 15 hari dibandingkan tanaman padi sistem pindah-tanam. Hal ini karena pada sistem tabela, tanaman padi tidak mengalami stagnasi pertumbuhan. Keuntungan lainnya, sistem perakarannya lebih cepat berkembang sehingga mampu berkompetisi dengan gulma untuk memperoleh unsur hara di dalam tanah. Hal ini karena sistem perakarannya tidak terbenam dalam tanah, maka mudah menyerap udara untuk bernafas. Berbeda dengan tanaman padi sistem pindah-tanam yang mengalami stagnasi pertumbuhan pada saat bibit dipindah dari lahan persemaian ke lahan budidaya. Bila dipindah, tanaman perlu waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Dan kebiasaan petani selama ini, bibit tanaman dibenam dalam tanah sampai semua perakarannya terbenam. Kondisi ini menyebabkan sistem perakarannya kurang cepat untuk berkembang.  
Sistem tabela dapat dilakukan secara manual atau dengan menggunakan bantuan alat. Tabela secara manual hanya bertujuan untuk  menghemat tenaga kerja, namun hasil produksi tanaman padi kurang optimal. Dengan cara manual, tata-letak benih padi tidak teratur, sehingga pertumbuhan kurang optimal dan menyulitkan dalam pemeliharaanya. Bila ingin lebih teratur, dilakukan penyulaman yang membutuhkan tenaga lebih banyak. Saat ini telah banyak dilakukan pengembangan alat bantu tabela.  Dengan alat bantu tata-letak benih lebih teratur. Namun alat yang ada sekarang belum mempunyai kinerja yang optimal dengan hasil yang diinginkan petani pada umumnya, yaitu tata-letak benih rapi baik dalam larikan dan barisan, benih yang jatuh setiap rumpun sama jumlahnya. Bila ada alat yang kinerjanya seperti itu tidak diperlukan lagi kegiatan penyulaman.

Untuk menghasilkan pertumbuhan tanaman padi yang optimal, sebelum disebar sebaiknya benih diberi perlakuan khusus (seed treatment), sebagai usaha imunisasi terhadap serangan hama dan penyakit dan merangsang pertumbuhan akar. Dengan cara ini pertumbuhan akar lebih cepat sehingga mampu bersaing dengan gulma untuk memperebutkan unsur hara. Sudah banyak produk kimiawi seperti itu yang beredar di toko-toko pertanian. Selain itu, sebaiknya jumlah benih tiap rumpun cukup dua butir dengan jarak tanam cukup lebar ± 45 cm. Dengan cara ini, kebutuhan benih lebih sedikit, namun pertumbuhannya lebih optimal. Kebiasaan umunya sekarang yang diterapkan oleh petani adalah menanam bibit padi tiap rumpun jumlahnya 4-5 bibit dengan jarak tanam 25 cm. Cara petani ini dianggap akan menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi karena jumlah bibit lebih banyak otomatis jumlah anakan akan lebih banyak, dan dengan jarak tanam yang lebih pendek otomatis jumlah rumpun juga lebih banyak. Namun, berdasarkan hasil penelitian, bila tiap rumpun hanya 2 bibit dengan jarak tanam yang lebar, ruang gerak untuk pembentukan anakan lebih longgar. Sirkulasi udara dan cahaya juga lebih baik. Cara ini dapat mengoptimalkan produktivitas tanaman padi.
Untuk kegiatan pemeliharaan, sistem tabela dengan sistem pindah-tanam tidak ada perbedaan. Masalah kondisi gulma, pada sistem tabela biasanya gulma lebih dominan. Sifat gulma yang lebih mudah tumbuh dapat mengalahkan pertumbuhan tanaman padi di lahan sistem tabela. Kalau di lahan sistem pindah-tanam, yang ditanam adalah bibit padi yang sudah tumbuh, sementara biji-biji gulma yang ada di lahan belum tumbuh. Jadi pertumbuhan gulmanya lebih terlambat. Untuk mengatasinya bisa dengan cara manual (Bahasa Jawa:diwatun)  atau dengan cara kimiawi menggunakan herbisida padi, contohnya adalah DMA-6 untuk memberantas gulma berdaun lebar dan teki-tekian. Sedangakan untuk gulma berdaun sempit dapat menggunakan Clipper 25 OD, spesialis untuk memberantas rumpt yang “bandel” seperti Echinochloa crusgalli (Jejagoan/Pari-parian). Kedua produk tersebut merupakan herbisida selektif terhadap tanaman padi yang bersifat purna tumbuh.

Semoga bermanfaat...

Bagaimana dengan pendapat Anda.....????

  

10 komentar:

  1. apakah sistem tanam "tabela" hanya menentukan jumlah seberapa banyak sebaran bibit+jarak antar rumpun?? apakah tidak menentukan kedalaman tanam??apa dibiarkan saja di atas tanah/lumpur?

    terima kasih infonya, sangat bermanfaat.. :)

    BalasHapus
  2. sebaran benih tergantung dari alat yang digunakan.idealnya satu rumpun, 1 benih padi. sistem TaBeLa mensyaratkan kondisi lahan yang baik yaitu drainase lancar dan rata. pada saat penanaman kondisi air di lahan macak-macak, sehingga benih yang jatuh/disebar tidak tergenang air. jika tergenang air, benih akan sulit berkecambang karena kekurangan oksigen, atau mungkin akan terhanyut. untuk itu, pengolahan lahan harus sempurna.

    BalasHapus
  3. apakah selain di indonesia ada yang telah menggunakan sistem ini? menurut anda kenapa alat tabela masih belum berkembang(digital)? apa yang menjadi kendala alat ini untuk di'digitalisasi' kan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. di negara lain, ada yang menerapkannya..tipe alat yang digunakan berbeda2. maksud anda digital bagaimana...?? otomatis/jalan sendiri dikendalikan secara remote control..???

      Hapus
  4. untuk seed treatmen menggunakan produk apa?bahan aktif apa? terima Kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebelum benih disebar memang perlu dilakukan perlakuan tertentu :
      - pilih benih yg benar2 berkualitas (padat berisi/bernas) dengan cara dimasukan ke dalam larutan garam. benih yg mengambang dibuang, yg tenggelam yang diambil untuk di semai.
      - benih yg bernas dicampur dgn produk utk seed treatment, bisa digunakan dr bahan kimia, contoh Gauco produksi dari PT Bayer atau Cruiser dari PT syngenta. bisa juga menggunakan
      produk hayati yg mengandung bakteri, yg bertujuan sebagai imunisasi supaya tanaman tumbuh sehat

      Hapus
  5. tertarik dengan teknologi tabele, mungkinkah alat ini bisa dimodifikasi untuk lahan Tanpa Olah Tanah (sistem gogo rancah). terima kasih?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas masukannya.
      sekarang saya sedang mendesain alat2 pertanian.tahap awal yang sedang dikembangkan adalah alat tanam bibit padi (sistem pindah tanam). nantinya juga akan mendesain alat tanam benih untuk sistem tabela.dan kemudian alat panen kombinasi ( jadi langsung keluar gabah). teknologi di adopsi dari luar negeri dirancang secara tepat guna, sehingga sesuai kondisi di sini dan harga yg terjangkau

      Hapus

Bagaimana Pendapat Anda...??????