Indonesia adalah negara agraris (sebuah kenyataan atau pertanyaan)

Mayoritas penduduk Indonesia bermatapencaharian di bidang pertanian, itu lah faktanya. Kalau hal tersebut dijadikan parameternya, maka Indonesia adalah negara agraris. Pernyataan itu benar adanya. Namun, sebagai negara agraris diharapkan kebutuhan pangan untuk warganegaranya dapat dicukupi dari produksi dalam negeri. Kenyataanya, Indonesia masih mengimpor pangan dari luar negeri, tidak hanya beras sebagai makanan pokok, tetapi bahan pangan lainnya seperti gandum, kedelai, dan jagung. Masih banyak Petani yang hidup dalam kemiskinan dan masih ada penduduk di pedesaan, yang menjadi sentra produksi pangan, mengalami kelaparan. Jadi pernyataan bahwa negara Indonesia adalah negara agraris patut jadi pertanyaan. Tetapi, semoga suatu saat nanti Negara Indonesia menjadi kenyataan sebagai Negara Agraris. Mari Kita memberikan sumbangsih bagi Kemajuan Dunia Pertanian Indonesia sesuai kemampuan Kita masing-masing. Apa sumbangsih Anda..........????????

Minggu, 31 Agustus 2014

Yuk Mari Kita Budidaya Padi Beras Hitam



Artikel sebelumnya telah dibahas mengenai beras ( Baca : Tentang Beras ). Berdasarkan warnanya, ada beberapa macam beras, yaitu : Beras putih (Oryza sativa), beras merah (Oryza glaberrima), beras hitam (Oryza sativa L. indica). Beras putih merupakan beras "biasa" yang berwarna putih agak transparan karena hanya memiliki sedikit aleuron, dan kandungan amilosa umumnya sekitar 20%. Beras ini mendominasi pasar beras dan yang umum dikonsumsi masyarakat. Sedangkan beras hitam
»»  Selengkapnya...

Sabtu, 30 Agustus 2014

Pengendalian Gulma Daun Sempit di Lahan Padi



Artikel sebelumnya telah membahas mengenai klasifikasi gulma (Baca: Klasifikasi Gulma). Secara garis besar, gulma di golongkan menjadi 3 golongan, yaitu gulma berdaun lebar, gulma berdaun sempit, dan gulma teki-tekian. Dilihat dari spesies-nya, jenis gulma sangatlah banyak, namun guna untuk mengidentifikasinya, penggolongan gulma menjadi 3 golongan tersebut sering digunakan, dikaitkan dengan usaha pengendalian gulma atau dalam petunjuk penggunaan suatu herbisida.  

Beragam spesies Gulma di lahan padi

Setiap golongan mempunyai sifat tertentu, lebih spesifik lagi setiap spesies gulma juga memiliki sifat yang unik. Maka setiap spesies gulma juga memiliki respon yang berbeda tehadap herbsisida tertentu.
»»  Selengkapnya...

Sabtu, 19 Mei 2012

Masihkah Bawang Merah Mensejahterakan Petani...???


Suatu usaha atau bisnis dapat menghasilkan keuntungan apabila harga jual hasil produksi (output) lebih besar daripada biaya produksi (input). Dalam usaha budidaya bawang merah, banyak sekali komponen biaya input, diantaranya yaitu: bibit,sewa tanah, tenaga kerja, pupuk dan obat-obatan. Komponen-komponen biaya ini besarnya bervariasi tergantung kondisi dan musimnya. Misalnya, jika serangan hama dan penyakit sedang tinggi, maka biaya untuk pembelanjaan obat-obatan untuk mengendalikan serangan hama dan penyakit tersebut akan meningkat. Apabila penanaman dilakukan pada musim kering, dimana suply air diambil dari sumur, tentu hal ini akan menambah biaya untuk pembelian bahan bakar diesel. Dari Tahun ke Tahun, modal untuk budidaya bawang merah terus meningkat, karena komponen biaya produksi terus naik. Sementara, harga jual panen bawang merah sangat fluktuatif. Harga suatu komoditas pertanian, khususnya sayur-sayuran, sangat tergantung dari supply and demand sesuai Hukum Ekonomi dimana jika suply melimpah sedangkan demand tetap, maka harga akan cenderung menurun, dan sebaliknya. Pada saat panen raya dimana suply suatu komoditas meningkat maka harga cenderung akan menurun. Namun, untuk komoditas bawang merah, sebenarnya produksi bawang merah lokal sudah mencukupi untuk kebutuhan konsumsi dalam negeri. Apabila harga bawang merah rendah, disinyalir karena adanya bawang merah impor yang masuk ke wilayah Negara Indonesia.
Kondisi “per-bawang-an” Brebes sudah lama dalam keterpurukan, petani “menjerit” melakukan aksi demo   menuntut agar impor bawang merah dihentikan. Namun, aksi tersebut sepertinya kurang membuahkan hasil yang signifikan. Kondisi “per-bawang-an” masih tetap dimana harga komoditas ini masih rendah bahkan tidak laku dijual. Hasil panen banyak yang menumpuk di tempat penyimpanan, padahal komoditas ini sifatnya perishable (tidak dapat disimpan lama), sehingga banyak yang membusuk tidak dapat digunakan untuk bibit. Akibat dari kondisi semacam ini, pada musim tanam bawang merah tahun ini (setelah panen padi pada Bulan Februari-Maret 2012), jumlah areal  tanaman bawang merah berkurang daripada tahun sebelumnya. Hal ini dikarenakan para petani sudah kehabisan modal dan persediaan bibit yang sedikit. Para petani beralih menanam komoditas lain yang biaya produksinya lebih sedikit seperti tanaman kacang-kacangan.
Setiap komoditas pertanian memiliki “harga patokan” yang berbeda-beda, yaitu harga jual minimal, dimana kalau harga jual lebih rendah dari harga patokan tersebut maka petani mengalami kerugian. Harga patokan untuk Bawang merah berkisar Rp 7.000/kg, untuk komoditas sayur-sayuran, misalnya kentang =Rp 3.500/Kg, terong= Rp 700/Kg. Harga jual panen tidak dapat dikendalikan oleh petani, bahkan pemerintah pun tidak sanggup untuk melakukan intervensi misalnya dengan melarang bawang merah impor dari luar negeri masuk ke wilayah Negara Indonesia, karena hal ini terkait dengan perdagangan bebas atau mungkin juga karena ulah para oknum yang hanya mementingkan keuntungan bisnisnya sendiri.
Untuk itu perlu ada terobosan-terobosan yang inovatif dari para petani untuk melakukan perubahan dalam teknologi budidaya yang se-efisien mungkin supaya menghasilkan produktivitas yang lebih baik. Jadi kata kuncinya dan yang menjadi Pekerjaan Rumah adalah PRODUKTIVITAS.
Produktivitas pertanian di Indonesia secara umum kalah dengan Negara lain bahkan dengan sesama Negara berkembang. Bila cara-cara lama tetap dilakukan, maka usaha budidaya bawang merah tidak menguntungkan lagi dan akan ditinggalkan oleh petani.
»»  Selengkapnya...

Selasa, 17 Januari 2012

AKSI DAMAI PETANI MENOLAK BAWANG MERAH IMPOR


Kabupaten Brebes selain dikenal telor asinnya, dikenal juga sebagai sentra produksi bawang merah dan menjadi barometer kondisi per-bawangan nasional. Penduduknya yang berjumlah sebanyak 1.90.547 jiwa (sumber: radartegal.com), mayoritas adalah petani bawang merah, walaupun berprofesi sebagai PNS atau POLRI umumnya  mereka juga ”nyambi” bertanam bawang. Jadi komoditas bawang merah menjadi “tulang punggung” perekonomian di Kabupaten Brebes. Jika kondisi per-bawangan sedang “lesu” imbasnya ke sektor-sektor ekonomi yang lain juga mengalami kelesuan. Penjulan produk-produk otomotif, elektronik, sembako, dll. akan mengalami penurunan jika harga bawang sedang rendah. Sedikit tips buat anda jika anda adalah sales, jangan berjualan di wilayah Brebes manakala harga bawang sedang ‘hancur’, masa itu adalah saat yang pas jika anda mencari barang seken karena biasanya banyak petani yang menjual motornya atau barang-barang lain yang dimilikinya untuk modal menanam bawang lagi. Pedagang yang merasakan langsung imbasnya bila harga bawang ‘hancur’ adalah pedagang atau pemilik toko-toko pertanian yang menjual sarana produksi budidaya bawang merah seperti pupuk dan pestisida. Hal ini karena sudah menjadi kebiasaan petani untuk berhutang ke toko-toko pertanian. Daya serap pasar pupuk dan pestisida di Brebes memang sangat besar bahkan terbesar se Nasional. Melihat peluang pasarnya yang besar, banyak perusahaan agrokimia yang memproduksi pupuk dan pestisida, melakukan aktivitas promosi penjualan lebih intens di wilayah Kabupaten Brebes dibandingkan di wilayah lainya. Di wilayah inilah perusahaan-perusahaan agrokimia menggantungkan omzet penjulannya, dimana ‘kue pasarnya’ mencapai ratusan milyar pertahun. Kondisi ini juga dilirik oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk mengerdarkan produk-produk pupuk dan pestisida palsu atau produk ilegal yang tidak mempunyai izin dagang. Kasus penangkapan oknum yang memproduksi pestisida palsu sudah pernah dilakukan, namun peredaran produk-produk semacam ini tetap perlu diwaspadai.   


Sudah menjadi hukum ekonomi, bahwa jika pasokan/suply suatu barang melimpah sedangkan permintaan tetap maka harga barang tersebut akan turun. Suatu komoditas pertania pada saat panen raya dimana pasokan melimpah, maka harga cenderung akan turun. Sebaliknya jika hasil panen berkurang –mungkin karena faktor musim atau banyak yang  gagal panen- harga akan meningkat. Namun selama beberapa bulan terakhir ini, semenjak bulan puasa harga bawang merah berada pada level yang rendah di bawah 5 ribu bahkan sampai terjun bebas 2rb/kg harga ditingkat petani. Padahal harga BEP berkisar pada 7 rb/kg. Keadaan semacam ini disinyalir karena adanya bawang impor dari negara lain yang  masuk terutama dari negara Filipina, dimana harganya juga lebih murah. Adanya bawang impor ini akan memperbesar pasokan bawang yang mana akan membuat bawang lokal brebes harganya turun.


Kondisi ini tentunya sangat memukul ekonomi petani bawang di Brebes terutama petani gurem yang mengandalkan pendapatan keluarganya hanya dari menanam bawang. Bagi keluarga petani yang punya pendapatan lain  masih bisa ‘bernafas’, hasil panennya bisa disimpan sementara untuk dijual dikemudian hari bila harga mengalami kenaikan. Namun jika harga bawang tidak mengalami kenaikan selama labih dari 3 bulan juga akan muncul masalah dalam penyimpanan karena komoditas bawang tidak dapat disimpan lama. Teknologi penyimpanan sudah dikembangkan untuk memperpanjang masa simpan dan mempertahankan kualitas bawang merah namun teknologi tersebut membutuhkan investasi yang besar, sehingga hanya petani bermodal kuat saja yang bisa mengadopsinya.



Setelah berbulan-bulan petani ‘bersabar’ berharap ada kenaikan harga, namun kenyataannya bawang merah yang menjadi satu-satunya ‘harta karun’ yang dimiliki tidak beranjak naik harganya, sementara kebutuhan-kebutuhan lain tidak bisa tercukupi-untuk biaya hidup, biaya sekolah anak, membayar hutang, dll- pada akhirnya mereka ‘unjuk gigi’ menyatukan ‘misi dan visi’ menyatukan ‘barisan’ meneriakkan satu kata “ TOLAK BAWANG IMPOR”. Bawang impor yang telah menyengsarakan kehidupan ekonomi mereka, karena bawang merah yang mereka produksi tidak ada harganya lagi. 
Pada Hari Senin Tanggal 16 Januari 2012 mulai jam tujuh pagi, massa petani melakukan aksi damai di depan Pasar Bawang Klampok-Brebes yang dikoordinasi oleh Dewan Bawang Merah Nasional (DEBNAS) KorDa Brebes. Aksi damai ini juga diikuti oleh petani-petani dari daerah lain di sekitar Brebes yaitu Tegal, Pemalang dan Cirebon. 




Adanya aksi ini tentu saja menimbulkan kemacetan lalu lintas jalur pantura. Aparat keamanan dari kepolisian dikerahkan untuk menjaga aksi ini. 




“TOLAK...TOLAK...TOLAK...TOLAK BAWANG IMPOR SEKARANG JUGA...” . Demikian yel-yel yang diteriakkan massa petani. Beberapa orator dari perwakilan kelompok massa bergantian melakukan orasi. Ada juga orasi yang dilakukan oleh ibu-ibu menyampaikan keprihatianan nasibnya. Pelaku impor dikecam sebagai teroris, yang telah merugikan banyak petani. Tuntutan pokok aksi ini adalah menolak bawang impor, selain itu tuntutan lainnya adalah sebagai berikut :
1. Ditetapkannya harga patokan minimum bawang merah di tingkat petani (7 – 9 ribu/kg)
2. Diaturnya tata niaga bawang merah nasional yang berkeadilan
3. Adanya perlindungan dari Pemerintah untuk petani demi masa depan bawang merah nasional.
Jika tuntutan tersebut tidak ditindaklanjuti, mereka mengancam akan memboikot PILKADA pemilihan Bupati Brebes yang akan dilaksanakan pada Tahun ini. Mereka berpendapat para wakil rakyat, para pejabat tidak memperdulikan nasib mereka. Para wakil rakyat dan para pejabat memperdulikan rakyat hanya pada saat akan pemilu untuk mencari dukungan, namun pada saat kondisi rakyat sedang terpuruk, mereka tidak memperdulikannya. Massa petani juga meminta  kepada pejabat pusat untuk memperhatikan nasib mereka, mendengar jeritan-tangis mereka, memberikan perlindungan terhadap hasil pertanian mereka. Selama aksi berlangsung, beberapa perwakilan petani (ketua  Asosiasi bawang merah, ketuan Gapoktan-Gapoktan, Ketua KTNA, Ketua Dewan Bawang Merah Nasional, dan ketua dari organisasi lainnya) melakukan dialog dengan pejabat Pemerintah Daerah Brebes untuk merumuskan tindakan-tindakan selanjutnya.







Setelah  dialog selesai dilakukan, sekiatar jam sebelas massa mulai bubar. Tindak lanjut dari aksi ini adalah beberapa perwakilan dari petani menuju ke jakarta yang di fasilitasi oleh Pemda Brebes untuk menyampaikan aspirasi ke pejabat-pejabat pusat. Mereka akan bertemu dengan mentri pertanian, mentri perekonomian, mentri perdagangan, dan pejabat-pejabat yang terkait masalah impor serta pelaku impor.
Sebagai ungkapan kekesalanya karena bawang tidak ada harganya, ada yang membuang bawang merah ke tengah-tengah jalan. Pada saat perjalanan pulang, massa terhenti di depan toko surabaya, sebelah timur pasar bawang klampok. Toko surabaya disinyalir menjadi gudang tempat transit bawang impor yang akan didistribusikan ke pasar-pasar. Ada yang memprovokasi ‘menggrebek’ gudang tersebut dan sempat terjadi insiden pelemparan ke arah gudang tersebut. Namun, emosi massa dapat diredam, sehingga tidak sampai terjadi tindakan-tindakan yang anarkis.




Kita tunggu saja nanti...semoga keadaan bisa membaik.


»»  Selengkapnya...

Kamis, 01 Desember 2011

Bibit Durian Bawor


Bibit Durian Bawor berkaki empat, dapat ditanam di dataran rendah, dalam jangka waktu empat tahun sudah dapat berbuah dengan ukuran buah 8-15 Kg. Buahnya tebal, bijinya tipis dan rasanya manis. Pemesanan hubungi: Odi , Hp 0856 4282 7879 / 0813 9194 8191
»»  Selengkapnya...

Bibit Jambu Sukun Merah Tanpa Biji


Bibit Jambu sukun merah tanpa biji, dalam jangka waktu satu tahun sudah dapat berbuah. Pemesanan Hubungi : Odi, Hp 0856 4282 7879 / 0813 9194 8191
»»  Selengkapnya...

Kamis, 06 Oktober 2011

NASA Reverse Osmosis (NASA R.O.)


Mesin Air minum NASA Reverse Osmosis (NASA R.O.) merupakan mesin pengolah air langsung minum yang dapat membuang polutan-polutan di dalam air PAM atau air sumur  seperti logam-logam berat, pestisida, racun-racun, zat kimia, partikel-partikel radio aktif, bakteri, virus, garam, endapan, dan sebagainya. Meminum air yang kurang bersih tidak akan berpengaruh dalam jangka pendek, namun dalam jangkam panjang lambat laun akan membuat organ-organ tubuh kita menjadi rusak dan seringkali berakibat fatal dan terlambat .

Air minum yang dihasilkan oleh NASA R.O. ini adalah Air murni dan sehat sehingga tidak perlu dimasak lagi. Air yang bersih dan sehat jelas akan memperbaiki system kekebalan tubuh kita karena didalamnya tidak ada lagi zat-zat yang berbahaya termasuk virus atau bakteri, ataupun bekas-bekasnya.

Dengan air murni ini darah didalam tubuh kita dapat mengalir dengan baik dan mengedarkan sari-sari makanan ke seluruh tubuh sekaligus membuang zat-zat yang tidak berguna dan membuangnya lewat kulit dan  ginjal, sehingga mesin ini disebut “GINJAL ke-3” ketiga yang ada di luar kulit tubuh kita, mengingat cara kerjanya yang hampir sama.

Info lebih lanjut, hubungi kami 0856 4282 7879

»»  Selengkapnya...