Indonesia adalah negara agraris (sebuah kenyataan atau pertanyaan)

Mayoritas penduduk Indonesia bermatapencaharian di bidang pertanian, itu lah faktanya. Kalau hal tersebut dijadikan parameternya, maka Indonesia adalah negara agraris. Pernyataan itu benar adanya. Namun, sebagai negara agraris diharapkan kebutuhan pangan untuk warganegaranya dapat dicukupi dari produksi dalam negeri. Kenyataanya, Indonesia masih mengimpor pangan dari luar negeri, tidak hanya beras sebagai makanan pokok, tetapi bahan pangan lainnya seperti gandum, kedelai, dan jagung. Masih banyak Petani yang hidup dalam kemiskinan dan masih ada penduduk di pedesaan, yang menjadi sentra produksi pangan, mengalami kelaparan. Jadi pernyataan bahwa negara Indonesia adalah negara agraris patut jadi pertanyaan. Tetapi, semoga suatu saat nanti Negara Indonesia menjadi kenyataan sebagai Negara Agraris. Mari Kita memberikan sumbangsih bagi Kemajuan Dunia Pertanian Indonesia sesuai kemampuan Kita masing-masing. Apa sumbangsih Anda..........????????

Rabu, 08 Juni 2011

Klasifikasi Herbisida


Ada lima cara pengelompokan herbisida yang banyak diterapkan dalam praktek budidaya tanaman, yaitu :

A.      Klasifikasi berdasarkan pada derajat respon tumbuhan terhadap aplikasi herbisida (Selektivitas)
1.       Herbisida selektif, adalah herbisida yang  beracun untuk tumbuhan tertentu daripada tumbuhan lainnya. Secara ideal, herbisida selektif adalah herbisida yang mempu mengendalikan gulma sasaran tanpa meracuni tanaman utama.Contoh herbisida selektif adalah 2,4-D; ametrin; diuron; oksifluorfen; klomazon; dan karfentrazon.
2.       Herbisida non-selektif, adalah herbisida yang beracun bagi semua spesies tumbuhan yang ada.  Oleh karena itu, herbisida jenis ini diaplikasikan pada saat  tidak ada tanaman utama yang sengaja dibudidayakan. Herbisida yang masuk dalam golongan ini antara lain glifosat, sulfosat dan paraquat.
Herbisida yang  selektif terhadap suatu tanaman belum tentu selektif terhadap tanaman lainnya. Contohnya herbisida berbahan aktif atrazin dan ametrin sangat selektif bagi tanaman jagung, tebu, dan nanas, tapi tidak selektif terhadap padi. Di sisi lain, propanil, triasulforan, dan metsulfuron metil sangat selektif terhadap padi, tetapi belum tentu selektif terhadap tanaman lainnya.
Selektivitas herbisida dipengaruhi oleh dua hal, yaitu :
1.       Faktor tanaman yang berhubungan dengan herbisida, terdiri dari selektivitas fisiologis dan selektivitas fisik.
2.       Faktor teknik penggunaan, terdiri dari selektivitas posisional dan selektivitas teknik penyemprotan.
Selektivitas fisiologis dapat dikatakan selektivitas bawaan bahan aktif herbisida tersebut dalam “memilih” tumbuhan sasarannya yang akan “dibunuh”.  Suatu tanaman dapat mengubah bahan aktif herbisida(dalam takaran tertentu) menjadi bahan yang tidak meracuni tanaman tersebut. Contoh kasusnya adalah atrazin pada tanaman jagung, dimana tanaman ini mampu mendetoksifikasi atrazin sehingga tidak beracun bagi jagung.
Selektivitas fisik terjadi karena adanya zat penghalang atau lapisan tertentu pada tanaman yang mampu menahan herbisida sehingga tidak bisa mencapai bagian tanaman yang peka. Contoh kasusnya adalah lapisan kayu pada pohon dewasa, sehingga herbisida yang non-selektif sekali pun dapat digunakan untuk mengendalikan gulma pada tanaman perkebunan yang sudah berkayu.
Selektivitas posisional memanfaatkan perbedaan posisi dari bagian-bagian tanaman dan gulma yang peka terhadap herbisida. Contoh kasusnya adalah herbisida pra-tumbuh yang aktif di dalam tanah (soil acting) sesudah diaplikasikan pada tanah, akan segera membentuk semacam lapisan herbisida dengan kedalaman tertentu di lapisan tanah bagian atas. Biji-biji gulma yang kebanyakan berada di lapisan ini akan terpapar oleh herbisida dan tidak akan berkecambah. Jika berkecambah pun, kecambah akan segera mati. Sementara benih tanaman utama yang ditanam lebih dalam tidak terpapar herbisida dan akan tetap tumbuh.

Selektivitas teknik penyemprotan, berdasarkan pada tata cara aplikasi yang tepat, sehingga herbisida yang non-selektif pun  bisa dimanfaatkan untuk mengendalikan gulma pada beberapa jenis tanaman. Contoh kasusnya adalah penggunaan herbisida non-selektif (yang bukan sistemik) bisa digunakan untuk mengendalikan gulma diantara barisan beberapa jenis tanaman dengan teknik directed spray menggunakan sungkup atau corong. 
Contoh produk herbisida glifosat.
B.      Klasifikasi herbisida berdasarkan tipe translokasinya dalam tumbuhan
1.       Herbisida non-sistemik/ tidak ditranslokasikan, yaitu herbisida yang mematikan gulma karena gulma tersebut  terkena langsung oleh herbisida tersebut. Maka, herbisida ini hanya mampu mematikan bagian gulma yang berada di atas tanah. Contohnya adalah paraquat, diquat dan propanil. Semakin banyak bagian gulma yang terkena langsung berarti akan semakin baik daya kerja herbisida tersebut. Oleh karena itu, herbisida jenis ini diaplikasikan dengan volume semprot yang tinggi (600 – 800 Liter/Ha). Daya kerjanya kurang baik jika diaplikasikan pada gulma yang memiliki organ perkembangbiakan dalam tanah (seperti teki) atau mata tunasnya pada ruas rerumputan yang tertutup oleh pelepah daun. Sedangkan kelebihannya daya kerjanya cepat terlihat.
2.       Herbisida sistemik  yaitu herbisida yang bisa masuk ke dalam jaringan gulma dan ditranslokasikan ke bagian gulma lainnya. Karena sifatnya yang sistemik, herbisida ini mampu mematikan jaringan gulma yang berada di dalam tanah (akar, rimpang, umbi), namun daya kerjanya lebih lambat terlihat. Contohnya adalah 2,4-D; glifosat dan glufosinat.
Beberapa faktor yang mempengaruhi efektivitas herbisida sistemik, yaitu:
-Gulma harus dalam masa pertumbuhan aktif
-Cuaca cerah waktu aplikasi
-Tidak melakukan aplikasi menjelang hujan
- Areal yang akan disemprot dalam kondisi kering
- Menggunakan air bersih sebagai bahan pelarut.

C.      Klasifikasi berdasarkan pada waktu aplikasi herbisida
1.       Herbisida pra-tumbuh, diaplikasikan pada tanah sebelum gulma tumbuh, dimana kondisi tanaman utama yang dibudidayakan belum ditanam, sudah ditanam, belum tumbuh atau sudah tumbuh. Herbisida yang diaplikasikan akan membentuk lapisan tipis pada permukaan tanah. Akar atau tajuk gulma yang mulai berkecambah akan terkena dan menyerap herbisida tersebut pada saat menembus lapisan herbisida dan kemudian akan teracuni. Kelembaban tanah akan membantu herbisida mencapai biji gulma yang berkecambah di bawah permukaan tanah. Oleh karena itu, aplikasi herbisida pra-tumbuh pada kondisi tanah kering tidak dianjurkan. Contoh produk herbisida pra-tumbuh berbahan aktif oksifluorfen.

Semua herbisida pra-tumbuh adalah herbisida yang aktif di dalam tanah (soil acting) dan bersifat sistemik. Contoh penggunaan herbisida pratumbuh adalah ametrin;  diuron; 2,4-D;  dan metribuzin pada budidaya tanaman tebu dan ubi kayu. Oksadiazon, klomazon, metil metsulforan, oksifluorfen, dan propanil adalah contoh herbisida pratumbuh pada budidaya  tanaman padi; atrazin, metribuzin dan ametrin pada budidaya tanaman jagung.
2.       Herbisida pasca-tumbuh, diaplikasikan setelah gulma tumbuh. Dengan demikian, semua herbisida pasca-tumbuh adalah termasuk foliage applied herbicides.

Beberapa herbisida pasca-tumbuh digunakan untuk persiapan lahan sebelum tanam sebagai pengganti oleh tanam sempurna. Gulma yang  sudah tumbuh disemprot dengan herbisida dan ditunggu beberapa saat. Setelah gulma mati, kemudian dilakukan penanaman. Contoh herbisida yang digunakan adalah glifosat, sulfosat dan paraquat.
Penggunaan herbisida pasca-tumbuh lainnya adalah untuk mengendalikan gulma selama tanaman pokok yang dibudidayakan sedang tumbuh. Pemilihan jenis herbisida harus yang selektif bagi tanaman pokok atau diatur teknik penyemprotannya jika herbisida tersebut dapat meracuni tanaman pokoknya. Herbisida pasca-tumbuh yang dapat digunakan untuk pengendalian gulma pada tanaman pokok yang sudah tumbuh adalah glufosinat, glifosat, dan paraquat  pada perkebunan karet, kopi, kakao, dan kelapa sawit; 2,4-D pada budidaya padi; paraquat pada pertanaman jagung. Contoh produk herbisida pasca-tumbuh berbahan aktif penoksulam yang bersifat selektif terhadap tanaman padi (sangat aman/tidak meracuni tanaman pokok).
D.      Klasifikasi berdasarkan bidang sasaran aplikasi herbisida
1.       Foliage applied herbicides, adalah herbisida yang diaplikasikan langsung pada daun-daun gulma yang sudah tumbuh.  Herbisida yang termasuk dalam kelompok ini termasuk juga dalam kelompok herbisida pasca-tumbuh.
2.       Soil applied herbicides, adalah herbisida yang diaplikasikan dengan cara penyemprotan pada permukaan tanah atau dicampur /diaduk dengan tanah, dan umumnya diaplikasikan sebelum gulma tumbuh (herbisida pra-tumbuh).  Herbisida ini bekerja dengan cara menghambat perkecambahan gulma atau membunuh biji-biji gulma yang masih berada di dalam tanah.
E.       Klasifikasi berdasarkan golongan bahan aktif herbisida
1.       Senyawa anorganik. Beberapa senyawa anorganik sejak tahun 1900-an telah digunakan sebagai herbisida sebelum era herbisida modern, beberapa diantaranya adalah: Asam sulfat, Besi sulfat, Natrium klorat.
2.       Senyawa organik. Hampir semua jenis herbisida yang beredar dipasaran saat ini adalah herbisida yang termasuk dalam golongan senyawa organik.
3.       Bioherbisida.Beberapa mikro-organisme telah berhasil dikembangkan sebagai herbisida komersial. Pada dasarnya, mikro-organisme tersebut  (terutama jamur) merupakan penyebab penyakit yang sangat spesifik bagi tanaman tertentu.
Bagaimana Pendapat Anda...??
Semoga Bermanfaat...!!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Bagaimana Pendapat Anda...??????